Blog

Dreams do come true!

Touchdown Bali for the first time

Suatu ketika di dalam tahun 2015, kebetulan saya mendapat kesempatan untuk bepergian ke Sumba, sebagai bagian dari tim pendukung proyek kerjasama yang terjalin antara LSM tempat saya berkecimpung dengan lembaga donor, untuk kegiatan peningkatan kapasitas LSM-LSM lokal di Sumba. Ada dua kali kepergian saya ke Sumba, yaitu di bulan April dan Mei.

Perjalanan ke Sumba membuka mata saya kembali tentang kondisi masyarakat di pulau lain, setelah lama tidak bepergian keluar Pulau Jawa. Pengalaman ini juga menyadarkan saya tentang pentingnya sebuah perjalanan untuk melihat kondisi yang berbeda dari yang biasanya dialami sehari-hari di lingkungan tempat tinggal kami.

Pada suatu kesempatan transit di bandara I Gusti Ngurah Rai, dalam situasi tersemangati dan terinspirasi oleh perjalanan yang kami lakukan, saya berandai-andai untuk suatu saat nanti mengajak anak-anak berlibur ke Bali. Sebuah pulau yang berbeda secara adat istiadat, tatanan sosial dan kondisi alamnya. Tentu perjalanan ini akan membawa mereka pada suatu pengalaman baru yang berbeda dari perjalanan-perjalanan yang selama ini sudah dialami.

Serunya bermain di pantai pulau Bali

Barangkali semesta merasakan impian dan pengandaian saya. Barangkali dari diri saya sendiri juga mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan tersebut. Salah satunya, di sebuah rapat refleksi di LSM kami, kami mendapat kesempatan untuk mengungkapkan impian dan harapan masing-masing staff. Harapan yang saya ungkapkan adalah membawa anak-anak berlibur ke destinasi wisata seperti Bali. Saat itu, awal tahun 2017.

Menjelang pertengahan tahun 2017, ipar saya mendapatkan penempatan dari kantornya di Kota Denpasar, Bali. Sebuah dukungan dari semesta yang semakin mendekatkan harapanku menjadi kenyataan. Dengan demikian, ada pihak yang bisa saya jadikan rujukan, semacam information center, pemberi petunjuk. Syukur-syukur bisa nebeng transportasi dan akomodasi agar perjalanan kami lebih hemat.

Hingga akhirnya, dalam suatu kesempatan, setiap staff di LSM kami mendapatkan bonus untuk surplus dari penghasilan yang kami dapatkan selama rentang Juli 2014 – Desember 2016, dana tersebut saya tabung untuk merealisasikan harapan saya membawa anak-anak berlibur ke Bali.

Sampai pada perwujudan dari harapan saya tersebut, saya dan anak-anak pun berangkat ke Bali, 8 – 13 Juli 2017, 4 hari efektif kami miliki untuk menjelajah Pulau Bali. Perjalanan ini bukan sekedar mengikuti trend berwisata ke pulau yang paling terkenal obyek wisatanya di seantero Indonesia. Ini perjalanan yang saya harapkan menjadi pembuka wawasan anak-anak tentang keberagaman kondisi yang kita miliki di negara ini. Mungkin suatu hari nanti, kami akan rencanakan perjalanan ke belahan lain di Indonesia. Cerita perjalanan seru kami di Bali akan saya ceritakan secara terpisah di blog ini.

Jadi, dreams do come true! Dalam berbagai cara semesta mendukung setiap harapan seseorang yang memiliki harapan dan impian. Itulah satu hal yang saya pelajari dari pengalaman perjalanan ini, jangan berhenti berharap. Buka selebar-lebarnya kemungkinan yang dapat ditempuh. Persiapkan sebaik-baiknya hal-hal yang diperlukan untuk menjadi bekal perjalanan, baik dari segi dana, pengetahuan, relasi dan sebagainya.

Ada satu foto yang saya abadikan di akun media sosial saya di Instagram, tertanggal 14 May 2015. Foto interior sebuah tempat persinggahan di bandara I Gusti Ngurah Rai, ketika kami sedang transit di antara perjalanan Bandung-Sumba. Interior-nya unik dan menyenangkan. Barangkali di situlah kemudian angan-angan saya muncul, “andai anak-anak dapat pula menikmati tempat ini”.

Posting instagram tahun 2015
Posting foto saya tentang sebuah sudut persinggahan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, tahun 2015

Kini saya memiliki foto anak-anak berpose dengan latar belakang interior tempat persinggahan tersebut. Melihat foto itu, saya bergetar sendiri. Mei 2015 di masa lalu, mengantar saya dan anak-anak ke pengalaman liburan berkesan di bulan Juli 2017. Dreams do come true! It’s law of attraction! Apa yang kau pikirkan, itulah energi yang menghantarmu mengalami peristiwa-peristiwa serupa di masa kini.

Foto anak-anak di bandara Ngurah Rai Bali

Saya yakin, ini hanya satu dukungan semesta yang dapat saya ketahui perwujudannya. Tentu masih banyak dukungan semesta lain yang merupakan perwujudan dari harapan, pikiran, angan, yang tidak saya sadari. Kita hanya perlu sedikit lebih peka untuk memaknai tanda-tanda yang diberikan semesta kepada kita.

img-20170123-wa0007

Advertisements

Faktor Penentu Kebahagiaan

Seberapa banyak faktor luar menjadi drive bagimu untuk bahagia?

 

Setiap orang memiliki beragam motivasi untuk menjalani hidup. Ada yang memperoleh motivasi dari orang-orang di sekitarnya seperti keluarga, kekasih, anak-anak namun ada pula yang memperoleh motivasi hidup dari materi, seperti uang, benda mewah, maupun benda antik. Dengan keberadaan orang-orang maupun benda-beda tersebut, seseorang bisa merasa bahagia, tenteram, aman, nyaman dan berkecukupan. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu memiliki faktor luar tertentu yang menjadi penyemangat hidupmu?

Namun, apa yang terjadi apabila orang-orang maupun benda-benda tersebut suatu ketika tidak ditemukan berada di dekatmu? Mungkin kamu akan sedih, tak bersemangat, cemas, khawatir dan tidak nyaman.

Hanya saja, tahukah kalian, bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu dapat diciptakan dari dalam diri kita sendiri? Kita dapat memilih kebahagiaan kita sendiri, tanpa harus disertai keberadaan faktor-faktor luar tersebut. Kita bahagia karena kita sendiri, apa adanya. Bukan karena uang yang banyak, bukan karena keberadaan kekasih atau anak-anak kita, bukan pula karena memiliki ratusan penggemar atau rumah dan mobil yang mewah.

 

Suatu saat nanti, aku akan merindukan masa-masa ini

Biasanya seseorang rindu pada sesuatu yang tidak berada di dekatnya atau suatu keadaan yang sudah tidak dirasakannya saat ini.

Padahal, ketika sesuatu tersebut berada di dekatnya, justru seringnya dicuekin, diabaikan. Atau, ketika seseorang berada pada suatu keadaan tertentu, justru kepingin keadaan tersebut cepat berakhir, cepat berlalu.

Itulah, manusia.

Seperti saya yang merindukan masa-masa ketika berat badan saya masih di kepala empat sementara saat ini ada puluhan ‘bonus’ kilogram yang saya raih semenjak masa body ideal itu. Hiks..

Atau, masa-masa ketika saya bisa kelayapan sampai jam 2 pagi atau bahkan tidak tidur sama sekali dari malam hingga pagi menjelang.

Masa-masa ketika menjelajah tempat-tempat tak terduga di pelosok Indonesia dan dunia.

Masa muda yang gagah berani. Masa-masa yang saat ini hanya dapat dikenang dan dirindukan.

Bagaimana dengan keadaan saat ini? Masa ketika setiap menit teriakan “Mama..!” berkumandang karena anak lapar minta disuapi, atau karena ia minta dibacakan buku. Masa ketika harus bergadang semalam suntuk menjaga anak yang sedang demam tinggi. Masa ketika gendang telinga serasa mau pecah karena pertengkaran antara kakak dan adik, atau ketika mereka bermain begitu gaduh dan berisik. Rasanya ingin sekali masa-masa itu segera usai, dan meneriakkan kata “Merdeka!!”.

Vita dan anak-anak2

Entahlah.

Apakah kiranya yang akan terjadi bilamana masa-masa kegaduhan dengan anak-anak ini lewat nanti? Ketika satu per satu dari mereka akan mengucapkan, “Bye, Ma! Aku kencan dulu ya!” atau, “Bye, Ma! Jaga diri baik-baik ya. Kami sekeluarga pulang dulu ke rumah kami.”

Oh, oh.. mungkin di saat-saat itu, aku akan merindukan masa-masa kegaduhan saat ini. Masa-masa ‘penjajahan’ oleh anak-anak. Masa-masa ketika aku dapat menggendong mereka, memeluk tubuh mereka dengan gemas, memandikan mereka, menyisiri rambut dan mendandani mereka, mengecup lembut pipi mereka ketika terlelap, mengusap dan mencium wangi rambut mereka.

Ya, ya .. suatu saat nanti, aku akan merindukan masa-masa ini. Sama halnya ketika aku merindukan masa laluku sebelum saat ini.

Maka, akan kunikmati setiap detik yang kualami, saat ini. Biarlah rinduku akan masa lalu menyergapku. Karena rindu itu akan selalu ada, untuk beribu peristiwa yang telah dan akan kulalui.

Aku hanya perlu menyadari, bahwa kerinduanku akan masa lalu, tak akan membawa kembali masa lalu ke pangkuanku. Dan dengan demikian, aku hanya perlu menikmati dan memberi makna pada hidupku di masa kini. Karena lebih baik, aku merindu pada segala hal baik yang sudah kutorehkan di masa kini, daripada merindu pada sebuah sesal karena sesuatu yang tak kumaksimalkan pada masa kini.

img-20170123-wa0007

Just another busy story

Whooppss..ternyata menjaga konsistensi menulis blog setiap minggunya itu tidak mudah. Tiga minggu terlewat tanpa ada satu setoran pun untuk 1 minggu 1 cerita.

Sesungguhnya, saya tidak takut dengan tagihan admin 1 minggu 1 cerita. Bukan, bukan soal itu. Tetapi, komunitas ini begitu berharga untuk ditinggalkan, karena pertama, dukungannya dalam hal penulisan, yang merupakan salah satu passion saya sejak kecil. Kedua, sebagai seorang manusia, tentunya saya membutuhkan teman berbagi, meski untuk komunitas 1 minggu 1 cerita ini seringnya saling berbagi itu terjadi di dunia maya.

Oke, karena saya sedang dalam tahap tidak punya ide tema apa yang akan saya tuliskan di sini, saya mau cerita aja kesibukan saya dalam tiga minggu terakhir (baca : hal-hal yg membuat saya excuse tidak menulis dalam tiga minggu terakhir).

Satu, saya mengikuti sebuah seminar pengobatan alternatif bernama Longevitology, yang berlangsung dari tanggall 19 – 24 Maret 2017. Pengajarnya berasal dari Taiwan, kami menyebutnya Lao Tze (guru) Wei.

Cerita tentang keikutsertaan saya di seminar Longevitology ini sebenarnya bisa banget menjadi satu judul blog tersendiri. Namun, singkatnya, Longevitology adalah jenis terapi untuk penyembuhan berbagai jenis penyakit dengan menggunakan energi alam semesta, melalui pembukaan ke-6 cakra kita. Bacaan tentang longevitology itu sendiri dapat diakses di alamat situs berikut ini : http://www.longevitology.org

Kedua, di bulan April ini saya sedang berjuang membidani sebuah edisi majalah online yang berada di bawah payung organisasi KAIL. Namanya Pro:aktif Online. Saya sebut peran saya sebagai bidan, karena memang tugas saya adalah membantu para penulis ‘melahirkan’ karyanya. Saya tidak menulis di edisi tersebut, namun saya mengundang para penulis yang sesuai dengan kapasitas tema terkait untuk mengisi rubrik-rubrik yang ada. Saya memastikan semua penulis tersebut menepati jadwal pengumpulan artikel,  melalui proses pengeditan artikel dengan rapi dan menerbitkan satu edisi tersebut sesuai jadwal yang ditentukan.

Pro:aktif Online dulunya merupakan sebuah buletin yang berbentuk hard copy. Seiring dengan perkembangan jaman, buletin ini akhirnya dibuat dalam bentuk elektronik, sejak tahun 2012, terbit setiap 4 bulan sekali.

Teman-teman yang suka menulis di blog, bisa berkontribusi menjadi penulis di majalah online ini, yang penting sesuai dengan tema dan rubrik yang dibutuhkan. Silakan mampir berkunjung di majalah online kami, http://www.proaktif-online.blogspot.com . Untuk April ini, tema majalah ini adalah “Mengenal Diri Bagi Aktivis” Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Pro:aktif Online, bisa juga hadir di event Peluncuran Pro:aktif Online edisi April 2017, pada tanggal 29 April 2017. Catat tanggalnya yaaa.. Untuk detailnya, sila update ke instagram saya yaa.. https://www.instagram.com/arumanis/ atau ke blog Kail yang sudah saya sebutkan di atas.

img-20170123-wa0007

 

Grateful

Aku menghela napas panjang. Sudah kesekian kalinya ia tak hadir dalam momen-momen penting kami. Hari-hari besar keagamaan, ulang tahun pernikahan, ulang tahun anak-anak kami, seringnya dirayakan anak-anak bersama ibunya saja. Ke mana ayah, sang suami, sang kepala rumah tangga? Ia hanya sibuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Entah apa yang dikejarnya dalam pekerjaan itu? Anak dan istrinya mungkin sudah masuk dalam prioritas keseratus atau keseribu!

Namun, semua itu selalu kunetralisir dengan pemikiran positif, bahwa pekerjaan yang dilakukannya baik adanya, yang mungkin saja dapat mengubah dunia menjadi lebih baik dari yang ada sekarang. Anak-anak pun tampaknya tak melihat itu sebagai masalah. Mungkin sudah terlalu biasa mereka menjalani hidup tanpa seorang ayah. Seperti halnya aku yang terlalu biasa mengasuh dan membesarkan anak-anakku tanpa kehadiran seorang suami.

familypic

Triing!

Suara notifikasi dari android membuyarkan lamunanku. Satu notifikasi pesan masuk dari sebuah media sosial muncul di layar androidku.

“Va, boleh aku pinjam satu juta? Keadaan uangku sangat menipis saat ini…”

Hatiku tergerak merespon segera permintaan dari Sylvia, sahabatku.

“Boleh, Syl. Besok uangnya kubawa ke kantor ya.”

Tak lama, Sylvia membalas chat-ku dengan ucapan terima kasih.

Aku kembali menghela napas. Memikirkan Sylvia. Memikirkan persahabatan kami. Memikirkan keluargaku dan keluarga Sylvia.

Boleh dikatakan, Sylvia-lah yang berperan sebagai penopang hidup di dalam keluarganya. Suaminya tak berpenghasilan. Mas Henk, suami Sylvia, adalah seorang seniman lukis. Ia bekerja di rumah. Akhir-akhir ini, kudengar permintaan karya lukis sedang sepi. Penghasilan dari Mas Henk hampir tidak ada selama berbulan-bulan. Bertemu dengan kondisi stagnan seperti itu, Mas Henk justru malah mengkeret. Inspirasi seolah-olah lenyap dari kepalanya. Tiada usaha yang ia lakukan untuk membantu menyokong perekonomian keluarganya.

Aku dan Sylvia sudah bersahabat sejak kami berdua sama-sama bekerja di perusahaan tempat kami mencari nafkah saat ini. Namun demikian, profesi yang kami jalani sebagai tenaga administrasi paruh waktu tentu saja tak memberi penghasilan yang cukup. Penghasilan keluargaku masih didukung oleh penghasilan suamiku. Sementara Sylvia? Ia harus hidup pas-pasan dengan keluarganya dari penghasilan yang ia miliki.

Dua dunia yang berbeda. Yang satu, keluarga utuh : ayah, ibu dan anak-anak yang senantiasa bersama. Di pihak lain, keluarga dengan ayah yang sering tak di rumah, ibu yang seringkali merangkap peran sebagai ayah dan anak-anak. Yang satu, penghasilan sangat pas-pasan bahkan sering harus pinjam dana sana-sini untuk menutup kekurangan. Yang lainnya, penghasilan berkecukupan.

Ah, betapa dunia ini memang aneh. Dunia tidak pernah memberi sesuatu yang sungguh ideal. Mungkin ada keluarga lain di luar sana yang senantiasa bersama, berpenghasilan melimpah, bisa berlibur ke luar negeri, namun diliputi kemelut karena anak-anak mereka tumbuh tanpa pengasuhan yang benar. Mungkin lagi, di luar sana ada keluarga lain yang utuh, tetapi dirundung masalah karena adanya perselingkuhan atau kekerasan domestik. Siapa tahu?

grateful

Setiap kehidupan memiliki tantangannya masing-masing. Mungkin di kehidupan saat ini, itulah porsi tantangan yang harus kujalani. Mungkin, semesta sengaja mempertemukan aku dengan Slvia, untuk berkaca bahwa ada situasi yang kebalikan dariku yang ternyata memiliki tantangannya sendiri. Mungkin aku hanya perlu merasa bersyukur dengan kondisi yang kujalani sekarang, seperti halnya Sylvia yang perlu bersyukur dengan kondisinya sekarang. Hanya itu. Jalani tantangan hidup dengan penuh syukur, juga sebaik-baik yang bisa dilakukan.

Ah, terima kasih semesta. Terima kasih atas semua pengalaman jatuh dan bangun yang boleh kumiliki sampai saat ini. Kubersyukur pada apapun nasib yang kuterima. Semua baik adanya, bagiku dan keluargaku saat ini.

img-20170123-wa0007

Sejarah yang Menghidupi Sebuah Nama

batu-nisan_20150511_091119

Berbicara tentang makna sebuah nama, ingatan saya melayang kepada deretan nama yang terpatri pada bilah-bilah persegi terbuat dari batu atau kayu, yang ditancapkan pada gundukan-gundukan tanah tempat peristirahatan akhir sang pemilik nama. Nama-nama yang menyimpan sejarahnya masing-masing. Nama-nama yang meninggalkan kenangan bagi kerabat maupun sahabat yang telah ditinggalkan di dunia yang fana. Nama-nama yang telah mengembara kembali kepada Sang Pencipta.

Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki kenangan akan nama-nama tertentu. Nama-nama itu membingkai kisah-kisah kehidupan yang kemudian dikenang secara turun temurun melalui cerita-cerita di dalam keluarga atau komunitas.

“Eyang uti-mu, nak, waktu ibu masih kecil, sangat apik merawat barang-barang di rumah. Ia pun tak pernah berkata kasar, bahkan membentak anak-anaknya.” Itu sekelumit cerita ibu saya mengenang ibu kandungnya, nenek saya yang belum pernah saya jumpai, karena telah wafat sebelum saya dilahirkan.

“Bapak telah menjadi perintis pembangunan di desa ini. Semasa hidupnya, ia selalu berupaya memajukan kesejahteraan warga desa.” Itu kisah tentang perjuangan ayah mertua saya yang berupaya memajukan kesejahteraan desa yang dahulu dianggap sebagai daerah terpencil. Ketika meninggalnya, berbondong-bondong warga desa melayat, bahkan membantu proses pemakamannya.

Ternyata, seseorang mati tak hanya meninggalkan nama. Ia meninggalkan kisah berupa sejarah kehidupan. Ada sejarah yang menginspirasi, namun ada sejarah yang kelam.

Kita akan selalu mengingat nama Mahatma Gandhi dengan ajaran Ahimsa-nya atau Pramoedya Ananta Toer dengan seruannya tentang menulis untuk keabadian atau Pangeran Diponegoro yang secara kesatria melawan penjajahan. Nama mereka dikenang untuk diteladani, sebisa mungkin teladannya diwariskan ke anak cucu secara turun temurun. Kita semua ingin meneladani dan melanjutkan perbuatan baik mereka.

Pramoedya Quotes

Namun ada pula nama-nama yang diingat secara pahit dan menimbulkan mimpi buruk bagi sekian orang. Seperti nama Amrozi, pelaku bom Bali. Atau nama Santoso, teroris yang terbunuh di Sulawesi. Atau nama Azwar, nama pelaku pelecehan seksual di sekolah Jakarta International School (JIS) yang meninggal bunuh diri.

Jadi ..

Bagaimana Anda ingin nama Anda diingat oleh orang lain? Bagaimana Anda ingin diingat oleh orang lain ketika Anda mati?

Ada nama-nama yang telah pergi dan meninggalkan kisah. Ada pula nama-nama yang masih dapat dijumpai sosoknya, namun ‘sejarah’ tertentu telah tertempel mengikuti namanya karena perbuatan-perbuatan yang dilakukannya.

“Kenal Arif nggak?”
“Arif yang mana?”
“Itu lho, Arif yang udah cerai sama bininya, gara-gara keseringan mukul bininya sampe babak belur???”
“Ooh, Arif yang suka mukulin bininya itu.. Iya, tau.”

“Wah, Soleha tertangkap lagi.”
“Soleha yang suka menipu itu? Siapa lagi korbannya?”

“Hei, mau ke mana?”
“Nengok Mak Edoh, kemarin jatuh dari tangga. Kasihan.”
“Mak Edoh yang rajin bebersih di tempat kos kita??”
“Iya, yang itu. Emang ada Mak Edoh yang lain??”

“Kamu tau Pak Jajang?”
“Iya, kenapa Pak Jajang?”
“Kemarin, berani sekali menghadapi lima orang preman seorang diri. Benar-benar manusia pemberani!”

Adakalanya, sebuah nama begitu indah disandang oleh seseorang, namun ternyata amal perbuatannya tak semulia namanya. Nama Arif, mungkin diberikan oleh orang tuanya dengan harapan ia menjalani kehidupan dengan arif-adil-bijaksana. Nama Soleha, mungkin diberikan orang tuanya dengan harapan menjalani hidup yang soleh dan taat beribadah. Sebaliknya, ada nama-nama yang begitu sepele, kedengarannya kampungan, justru menyimpan sejuta kebaikan yang dirasakan oleh banyak orang di sekitar si empunya nama.

Bagaimana dengan Anda? Bagaimana dengan saya sendiri? Sejarah apa yang ingin kita tempelkan pada nama yang kita sandang? Sudahkah kita hidupi dengan sebenar-benarnya nama yang diberikan oleh orang tua kita?

Nama saya, Navita. Keluarga dan teman-teman memanggil saya, Vita. Orang tua saya mengambil nama itu dari kata nativity atau nativitas, yang artinya kelahiran atau kehidupan. Orang tua saya tentu memiliki harapan yang positif pada kehadiran saya di dunia ini, dengan memberikan nama yang indah itu. Namun, sudahkah saya berperilaku sesuai dengan cerminan nama saya sendiri?

Sebuah nama menyimpan harapan yang baik. Ia bukan hanya sekedar label atau formalitas demi melengkapi surat keterangan seperti akta kelahiran, KTP atau SIM. Pada sebuah nama, ada sejarah. Tentu kita semua ingin dikenang secara positif oleh anak dan cucu kita. Siapkah kita menorehkan sejarah positif dan inspiratif yang menghidupkan nama kita?

img-20170123-wa0007

WhatsApp Image 2017-03-05 at 10.33.05 PM

1 Minggu 1 Cerita di Mata Seorang Pemula

minggu-ke-6

Ini adalah minggu ke-6 perjalanan saya membiasakan diri menulis bersama komunitas 1minggu1cerita. Kini saatnya saya membuat satu tulisan mengenai komunitas ini.

Saya lebih suka menyebut 1minggu1cerita sebagai sebuah komunitas (meskipun di dunia maya), karena di dalam komunitas, ada tujuan bersama, semangat berbagi, saling dukung dan saling mengapresiasi. Hal-hal itulah yang saya rasakan selama bergabung dalam komunitas 1minggu1cerita ini.

Saya mengetahui komunitas 1m1c ini dari akun instagram Anil, salah seorang adminnya. Dalam salah satu instapic-nya, terpampang pendaftaran keikutsertaan dalam kegiatan 1minggu1cerita.
Ketika melihat pengumuman pendaftaran keikutsertaan di 1m1c ini saya langsung berpikir, “Ini saatnya untuk mengaktifkan kembali rasa dan kebiasaan menulis.” setelah sekian lama hobby menulis saya terkubur oleh beberapa pekerjaan yg tidak ada hubungannya dengan tulis menulis.

aturan-main

Saya pun mendaftar.
Tak lama setelah mendaftar, saya mendapat e-mail konfirmasi dan aturan main 1m1c. Mengagumkan, pikir saya. Dari aturan main yang saya baca, tampak bahwa komunitas ini di-maintain cukup rapi oleh para admin-nya.

Apa saja kesan-kesan positif saya tentang komunitas 1minggu1cerita? Simak ya :

  1. Simple, but organized

Komunitas ini memiliki anggota terdaftar mencapai 200 orang, dan setiap orang mendapat nomor anggota. Nomor anggota ini penting diingat oleh setiap anggota di saat akan menyetorkan tulisan.

Setiap anggota memiliki kesempatan menulis di blog dan menyetorkan link tulisannya setiap minggunya dari hari Senin pukul 00:01 hingga hari Minggu pukul 24:00. Form setoran setiap minggunya disiapkan oleh para admin yang bertanggung jawab memonitor setoran tulisan.

Simple, but organized.

form-setoran

Jadi, sebagai anggota, saya cukup menyetorkan satu tulisan yang dipublikasi di blog pribadi, satu kali dalam seminggu. Dengan demikian, saya sah menjadi anggota 1minggu1cerita.

Bagaimana kalau tidak setor? Ada aturan mainnya juga. Boleh sih, sesekali tidak setor tulisan. Tapi, anggota yang tidak setor link tulisan selama 6 minggu berturut-turut akan dikeluarkan dari keanggotaan.

  1. Komunikasi yang terjaga

Komunikasi para anggota dilakukan di group whatsapp. Kebayang rame-nya dua ratusan member didaftarkan masuk di dalam satu group whatsapp! Awal-awal, saya cukup puyeng namun sekaligus excited dengan group komunitas 1minggu1cerita ini. Beberapa orang sudah punya blog yang isinya banyak, beberapa orang nggak punya blog seperti saya. Beberapa anggota sudah saling kenal, sementara anggota baru seperti saya masih celingukan. Untuk sementara ini, saya pun masih sekedar menjadi silent reader dan terkadang terlewat ratusan chat tidak terbaca karena kesibukan lain.

Admin 1minggu1cerita rupanya tidak main-main dalam bertugas. Meski Whatsapp Group terkesan cair dengan percakapan yang ngalor ngidul, seringkali muncul reminder untuk setor tulisan. Dengan berbagai cara, dari yang lucu bikin ngakak sampai yang terkesan galak, seorang admin bernama Phadli konsisten mengingatkan kami semua untuk setor tulisan. Sampai-sampai admin lain pun bikin lelucon dari keukeuhnya Phadli menagih setoran anggota. Kalau sudah muncul Bang Phadli dalam percakapan, siap-siap saja untuk ditagih setorannya. Saya kagum sama konsistensinya mengingatkan kami semua untuk menyetor link tulisan. Keep on reminding us to write, ya, Bang!

phadli-2

screenshot_whatsapp_phadli-nagih-setoran

screenshot_2017-03-04-19-54-04_com-whatsapp

Menurut saya, komunikasi di group whatsapp 1minggu1cerita cukup terjaga. Admin senantiasa mengingatkan untuk tidak posting hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan menulis. Jadi, postingan yang bernada promosi atau jualan atau meme yang serba tidak jelas juntrungannya sudah tentu dilarang di group ini.

  1. Saling dukung melalui BW dan mendapat pengetahuan baru

Awalnya, saya nggak tau apa itu BW. Ternyata, BW itu istilah di dunia blogging, yaitu blogwalking! Intinya, seorang blogger mengunjungi link blog milik blogger lainnya, gitu deh. BW bisa meninggalkan jejak berupa like, comment atau tidak sama sekali. Yang tidak meninggalkan comment, bisa jadi ada kendala teknis dari setting-an blog yang dikunjungi.

tentang-bw

Melakukan BW ada gunanya juga. Kalau kita sedang tidak punya inspirasi menulis topik apa, lakukanlah BW. Dari hasil BW, biasanya sering muncul ide-ide untuk menulis suatu topik tertentu. BW juga membuat pengetahuan bertambah, karena ada beberapa blog menyediakan informasi baru, meski tak jarang juga ada yang bikin baper. Hehehe.. Tapi, baper pun tak apa. Kita manusia juga perlu mengasah perasaan dan empati kepada orang lain juga bukan?

Bagaimana supaya blog kita dikunjungi oleh anggota lain? Di sini tidak ada larangan untuk pamer! Justru dengan pamer link setoran di Whatsapp Group atau Twitter, anggota lainnya bisa langsung klik link tersebut dan membaca tulisan kita. Syukur syukur, kemudian ada comment dari para anggota yang sudah BW ke blog kita, menambah pertemanan dan silaturahmi di antara sesama blogger.

manfaat-bw

  1. Tagline sederhana yang mendorong motivasi menulis

Menulislah meskipun satu minggu satu cerita. Tagline dari 1minggu1cerita ini sederhana, tapi ngena banget. Cukup satu cerita saja dalam satu minggu, itu yang diharapkan dari komunitas ini, tidak lebih. Hm, apa susahnya menulis seminggu sekali saja? Bagi saya, ini adalah dorongan motivasi untuk konsisten menulis kembali, setiap minggu, satu tulisan saja.

Ketika akhirnya saya dapat menulis satu cerita di blog dan menyetorkan link tulisan tersebut di form setoran, lalu pamer link di media sosial, rasanya gimanaaa gitu. Saya merasa seperti telah memenangkan suatu pertempuran kecil mengalahkan rasa malas saya untuk menulis. Saya telah memenangkan kompetisi kecil dalam diri saya untuk menyisihkan waktu dari distraction dan kesibukan rutin saya demi menulis satu buah cerita.

Inilah pengalaman saya hingga minggu ke-6 bergabung di komunitas 1minggu1cerita. Semoga kami dapat terus konsisten menulis, satu cerita setiap minggunya. Terima kasih 1minggu1cerita, yang telah mendorong saya untuk kembali menulis.

img-20170123-wa0007

Belajar Tentang Makna Kebahagiaan Melalui Film Trolls

Siapa yang tidak ingin bahagia? Semua pasti ingin berbahagia dalam hidupnya. Hanya saja, mungkin orang-orang yang belum berbahagia tersebut mencari kebahagiaan di tempat yang salah, dengan cara yang salah. Film Trolls (2016) produksi DreamWorks Animation, memberi gambaran tentang pencarian kebahagiaan melalui film kartun untuk anak-anak, yang sesungguhnya memiliki banyak pesan untuk direfleksikan secara mendalam.

trolls-movie-trivia-quotes-f

Alkisah, hiduplah para Trolls, makhluk-makhluk kecil yang suka menyanyi, menari dan saling memeluk dengan bahagia. Mereka tinggal di sebuah pohon kebahagiaan, di hutan kebahagiaan. Suatu ketika kebahagiaan Trolls terganggu oleh kehadiran Bergen, sesosok makhluk raksasa. Bergen melihat para Trolls yang bahagia dan menginginkan agar kebahagiaan itu menjadi miliknya saja. Maka, ia pun melahap Trolls tersebut. Bergen menganggap kebahagiaan itu datang hanya jika ia memakan Trolls. Setelah peristiwa itu, semakin banyak Bergen tinggal dan mengelilingi pohon tempat para Trolls hidup. Bahkan para Bergen mempunyai hari raya besar yang mereka sebut Trollstice, hari satu-satunya dimana mereka bisa merasaka kebahagiaan dengan cara memakan Trolls.

Raja Peppy menyelamatkan seluruh rakyat Trolls dari kurungan para Bergen. Mereka mencari tempat baru untuk hidup. Merekapun merasakan ketenangan dan kebahagiaan selama 20 tahun lamanya. Tepat di hari perayaan 20 tahun kebebasan para Trolls dari mangsa Bergen, Princess Poppy, anak dari Raja Peppy membuat pesta yang luar biasa meriah. Sayangnya, kemeriahan pesta tersebut membuat Bergen mengetahui keberadaan Trolls. Segera pada malam perayaan itu, beberapa Trolls tertangkap dan dibawa ke kerajaan Bergen. Penangkapan para Trolls setelah 20 tahun bebas dari para Bergen menjadi awal petualangan Princess Poppy yang memutuskan untuk pergi menyelamatkan teman-temannya di kerajaan Bergen.

poppy
Princess Poppy

Princess Poppy, merupakan tokoh utama di dalam cerita ini. Diceritakan di film tersebut, Princess Poppy adalah Trolls yang paling bahagia, antusias, namun kurang perhitungan dan kewaspadaan. Betapa tidak, ia merayakan pesta perayaan pembebasan Trolls dari para Bergen dengan cara yang begitu heboh dan meriah sehingga kehadiran para Trolls dapat diendus oleh Bergen. Seketika itu juga, pesta mereka menjadi rusak, karena Bergen menangkap sebagian Trolls. Karakter Poppy yang ceria dan antusias tersebut diimbangi dengan karakter Branch yang pemurung dan senantiasa paranoid oleh kehadiran Bergen.

branch-trolls
Branch

Percakapan dalam film Trolls menurut saya dikemas begitu rupa sehingga menimbulkan pemikiran yang mendalam. Berikut ini beberapa intisari yang saya temukan dari percakapan di dalam film Trolls :

  1. Sikap kita ditentukan oleh cara pandang (paradigma) kita akan suatu permasalahan.

Pertemuan karakter Poppy dan Branch yang bertolak belakang, memberi cerminan tentang beragamnya cara pandang (paradigma) yang dapat kita temukan di kehidupan sehari-hari. Setiap cara pandang, memiliki caranya masing-masing dalam merespon situasi maupun permasalahan yang menerpa. Percakapan-percakapan yang terjadi antara Poppy dan Branch memberi perspektif tentang bagaimana seseorang melihat suatu masalah. Misalnya dialog yang terjadi ketika Poppy berjalan bersama Branch untuk misi penyelamatan teman mereka yang tertangkap oleh Bergen :

(Sumber : http://www.moviequotesandmore.com/trolls-best-quotes/)

Branch: Wait, wait, wait. What’s your plan?
Poppy: I just told you. Rescue everyone and make it home safely.
Branch: Okay, that’s not a plan, that’s a wish list.
Poppy: Oh, I suppose you have a plan.
Branch: First, we get to the edge of Bergen Town without being spotted. Then, we get inside by sneaking through the old escape tunnels, which will then lead us to the troll tree. Right before we get caught, and suffer a miserable death at the hands of a horrible, bloodthirsty Bergen!

Dapat dilihat dari kalimat tersebut, Poppy yang begitu ringannya berniat menyelamatkan temannya dengan bermodalkan niat baik dan harapan. Sementara Branch dengan sifat paranoid-nya, menggambarkan rencananya dengan diliputi oleh kewaspadaan dan ketakutan dimakan oleh Bergen. Cara pandang Poppy yang positif dan optimis, membuatnya begitu ringan menjalankan suatu misi. Sedangkan cara pandang Branch yang negatif dan paranoid, membuatnya sangat hati-hati dan detail dalam membuat perencanaan.

Saya copas tetap dengan bahasa aslinya, tanpa diterjemahkan, karena menurut saya kalau diterjemahkan, pesannya jadi kurang mengena.

 bergen

Branch: Do you have to sing?
Poppy: I always sing when I’m in a good mood.
Branch: Do you have to be in a good mood?
Poppy: Why wouldn’t I be? By this time tomorrow I’ll be with all my friends. Oh, I wonder what they’re doing right now.
Branch: Probably being digested.
Poppy: They’re alive, Branch. I know it.
Branch: You don’t know anything, Poppy, and I can’t wait to see the look on your face when you realize the world isn’t all cupcakes and rainbows, because it isn’t. Bad things happen, and there’s nothing you can do about it.
Poppy: Hey, I know it’s not all cupcakes and rainbows, but I’d rather go through life thinking that it mostly is instead of being like you. You don’t sing, you don’t dance, it’s so grey all the time! What happened to you?

Dari percakapan ini, dapat terlihat betapa optimisnya Poppy dan betapa pesimisnya Branch. Poppy sangat optimis bahwa teman-temannya masih hidup saat tertangkap oleh Bergen. Sementara Branch mengatakan, teman-teman mereka sudah pasti dimakan oleh para Bergen.

Pesimis menjadikan seseorang sarkastik dan terlalu pasrah, mereka tak bisa melihat sisi baik dari apapun juga. Seseorang yang optimis, senantiasa melihat dari kacamata positif, bahkan orang-orang optimis pun mau mencari sisi baik dari keadaan yang buruk sekalipun.

Trolls

  1. Kebahagiaan tidak datang dari luar, kebahagiaan itu ada di dalam diri kita sendiri. Orang lain hanya membantu kita untuk menemukan kebahagiaan tersebut.

Inilah pesan inti dari film ini. Mencari kebahagiaan bukan dari luar diri. Terkadang orang-orang mencari kebahagiaan dari orang lain atau benda-benda di sekitarnya. Padahal, mau bahagia atau tidak, itu semua berpulang pada diri sendiri. Orang lain di sekitar kita hanya berperan membantu kita untuk menemukan kebahagiaan. Maka, ketika orang-orang di sekitarmu tidak membantumu menemukan kebahagiaan, jangan lantas mengatakan kamu tidak bahagia dan berhenti di tempat. Terkadang, kamu perlu mencari orang yang tepat, yang dapat membantumu menemukan kebahagiaan itu. Jika orang itu tidak ditemukan? Yakini saja bahwa dirimu sendiri bisa memunculkan kebahagiaan itu! Lihatlah dari percakapan ini :

Poppy: Happiness isn’t something you put inside, it’s already there. Sometimes you just need someone to help you find it.

bergens2

  1. Penyelesaian masalah secara menyeluruh. Bukan sebagian. Win win solution.

Bridget: You showed me what it was to be happy and I never would have known it if it wasn’t for you. I love you.
Poppy: I love you, too.

Poppy: Bridget just risked her life to save ours. It’s no right. She deserves to be happy as much as anyone. They ALL do.

Inilah yang menjadikan saya selalu terpukau dengan cara DreamWorks mengemas film ini. Penyelesaian masalah bukan soal menang dan kalah seperti yang sering kita saksikan di kebanyakan film. Penyelesaian masalah di film Trolls ini mengedepankan win win solution.

Poppy melihat bahwa penyelamatan para Trolls bukanlah akhir misi. Ia yakin bahwa semua orang berhak bahagia, termasuk para Bergen. Maka ia mengajak teman-temannya untuk kembali menemui raja Bergen, King Gristle, JR.

King Gristle Jr : Do you really think I can be happy?
Poppy: Of course! It’s inside you! It’s inside of all of us! And I don’t think it. I feel it!

TROLLS

Selain dialog yang begitu inspiratif, soundtrack film Trolls cukup menggugah dan membangkitkan semangat. Lirik lagu yang saya sukai antara lain :

Get Back It Up — lirik yang menampilkan sikap percaya diri dan semangat untuk bangun kembali meski kadang harus jatuh akibat rintangan yang menghadang.

True Colors — lirik yang menggugah kita untuk menampilkan diri apa adanya. Setiap diri kita memiliki bagian yang gelap, yaitu ketakutan, kekhawatiran. Namun ketakutan-ketakutan tersebut tidak membawa manusia untuk lebih maju, ia hanya semakin membuat manusia merasa diri kerdil.

Silakan disimak keseluruhan liriknya berikut ini :

GET BACK IT UP

I really hope I can do it
‘Cause they’re all depending on me
I know that I must leave the only home
I’ve ever known
And brave the dangers of the forest
Saving them before they’re eaten
I mean, how hard can that be?

Looking up at a sunny sky, so shiny and blue
And there’s a butterfly
Well, isn’t that a super fantastic sign
It’s gonna be a fantastic day
Such marvelousness it’s gonna bring
Gotta pocket full of songs that I’m gonna sing
And I’m ready to take on anything
Hooray!

Some super fun surprise around each corner
Just riding on a rainbow, I’m gonna be okay

Hey!
I’m not giving up today
There’s nothing getting in my way
And if you knock knock me over
I will get back up again
Oh!
If something goes a little wrong
Well you can go ahead and bring it on
‘Cause if you knock knock me over, I will get back up again

Woah oh oh oh oh oh oh, get back up again
Woah oh oh oh oh oh oh, ahhhh!

I’m marching along I’ve got confidence
I’m cooler than a pack of peppermints
And I haven’t been this excited since
I can’t remember when!

I’m off on this remarkable adventure
Just riding on a rainbow
What if it’s all a big mistake?
What if it’s more than I can take?
No! I can’t think that way ’cause I know
That I’m really, really, really gonna be okay

Hey!
I’m not giving up today
There’s nothing getting in my way
And if you knock knock me over
I will get back up again
Oh!
If something goes a little wrong
Well you can go ahead and bring it on
‘Cause if you knock knock me over, i will get back up again

TRUE COLORS

You with the sad eyes
Don’t be discouraged
Oh I realize
Its hard to take courage
In a world full of people
You can lose sight of it all
And the darkness inside you
Can make you feel so small

But I see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that’s why I love you
So don’t be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful
Like a rainbow

Show me a smile then
Don’t be unhappy, can’t remember
When I last saw you laughing
If this world makes you crazy
And you’ve taken all you can bear
You call me up
Because you know I’ll be there

And I’ll see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that’s why I love you
So don’t be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful

img-20170123-wa0007

With or Without???

 

Beberapa hari yang lalu, saya bercerita kepada seorang teman tentang serunya perjalanan hiking saya bersama anak-anak di sebuah akhir pekan. Meski harus berpanas-panasan, perjalanan jauh – berjam-jam lamanya untuk tiba di tujuan, kami merasa puas dengan proses hiking bersama tersebut.

img_20170128_111938
Pemandangan indah kota Bandung dari kejauhan, saat kami hiking di Kec. Cimenyan (Bandung Timur)

Teman saya menimpali, “Boleh juga tuh, dicoba untuk Ben (bukan nama sebenarnya). Tapi, bisa nggak, hiking-nya tanpa orang tua? Ini saran dari psikolog anak, Ben sebaiknya menjalani terapi hiking tanpa pendampingan orang tua. Supaya kemandiriannya muncul.”

Teman saya lantas bercerita tentang betapa tergantung anak sulungnya itu kepadanya. “Apa-apa mesti mamanya. Beli jajanan sama mama, pergi main ke rumah teman sama mama. Masak nanti besar pacaran mesti ditemani mamanya juga???”

Saya tercenung sejenak mencerna kalimat teman saya barusan.

Entah mengapa, saya merasa tidak ‘sreg’ dengan saran yang diberikan psikolog anak tersebut. Meski sebenarnya, kondisi ketergantungan yang berlebihan dari anak sulung teman saya itu, juga saya alami dengan anak bungsu saya. Seringkali rengekan, “Mau sama mama!!” keluar dari mulut si bungsu, hampir di kebanyakan situasi. Entah itu di sekolah, bahkan ketika di satu rumah, namun berbeda ruangan.

Beberapa hari saya merenung-renungkan terus percakapan saya dengan teman itu.

Apakah seharusnya anak dibiarkan lepas begitu saja, tanpa orang tua turut berproses bersama anak?

Kembali ke buku Radical Forgiveness yang pernah saya bahas di sini, saya meyakini bahwa setiap jiwa manusia memiliki ‘tarian’ dengan jiwa individu lainnya. Setiap relasi antar manusia memiliki ‘tarian’-nya sendiri. Tidak ada manusia yang menari sendirian. Manusia memang diciptakan untuk bersosialisasi, berhubungan dengan makhluk lain, entah manusia ataupun hewan. Dan dari relasinya dengan makhluk hidup di dunia, misi hidup manusia direalisasikan.

Relasi dengan makhluk hidup di dunia bisa dengan siapa saja. Setiap relasi adalah unik dan spesifik berdasarkan hubungan dengan suami, orang tua, anak-anak maupun teman-teman dan orang-orang di sekitar. Terkait ketergantungan orang tua dan anak yang diceritakan di atas, saya memiliki relasi unik dengan anak bungsu saya. Masing-masing dari kami saling berproses. Proses pendewasaan terjadi di kedua pihak, bukan pada anak bungsu saya saja. Pendewasaan diri yang saya alami, adalah dengan mendampingi bungsu saya, tanpa membuat ia tergantung kepada saya. Pendewasaan diri yang dialami anak saya, adalah bagaimana memupuk kepercayaan diri dan kemandirian tanpa tergantung kepada orang lain.

Terasa lebih sulit menyemangati anak agar mandiri, saat kita berada di sisinya, dibanding saat kita sedang tak bersamanya. Seringkali, sebagai orang tua, kita cenderung menjadi tidak sabaran, lelah, pengen yang gampangnya saja. Contoh kecil di rumah, yaitu ketika anak belajar untuk makan sendiri. Orang tua ingin anak segera menyelesaikan makannya, atau, dengan alasan supaya meja makan tidak kotor karena makanan yang berceceran. gampangnya, disuapi saja!

Ketika hiking, saya pun harus berhadapan dengan rengekan si bungsu, “Capek, Ma! Minta gendong, Ma! Kaki adek pegal, Ma!”

img_20170128_103837
Vidya, bungsu saya saat sedang bete, karena jalur hiking yang melelahkan

Apa yang harus saya lakukan dalam situasi tersebut? Saya kasihan sebenarnya. Bagaimana jika setelah hiking nanti ia jatuh sakit? Kondisi tubuhnya mungkin belum kuat untuk menjelajah rute yang demikian berat. Apakah saya turuti rengekannya? Saya gendong terus hingga tiba di tujuan? Tidak mungkin juga. Saya harus simpan stamina juga untuk bisa mencapai tujuan dari hiking tersebut. Bisa berabe kalau saya ambruk, pingsan di tengah jalan gara-gara menuruti rengekan si bungsu, menggendong dirinya. Lagipula, dengan menuruti rengekan si bungsu, apakah baik untuk perkembangan jiwanya di kemudian hari?

Mungkin, di titik itu, pendapat psikolog anak jadi terasa benar. Seharusnya aku tidak melalui proses hiking ini bersama anakku. Dia harus menjalani rute hiking itu sendiri, bersama seseorang yang ia tak akan mungkin bisa bermanja-manja seperti dengan mamanya. Dan ketika tiba di tujuan, diharapkan ia akan sampai pada pencerahan, “Ternyata aku bisa melalui rute ini, tanpa mamaku!”

Apakah sekembalinya si anak dari hiking tanpa orang tuanya itu, dia akan langsung berubah mandiri dalam sekejap? Apakah di rumah, proses menuju kemandirian itu akan terus diupayakan? Atau, sang ortu kembali memasrahkan proses pembentukan kemandirian itu pada pihak luar? Apakah proses seperti ini akan cocok kami jalani sebagai pasangan anak dan orang tua?

Kembali ke proses hiking kami.

Saya dan si bungsu akhirnya berhasil melewati rute hiking hingga tiba di tujuan.

Memang sih, perjalanan kami tak mulus. Siput mode on. Banyak berhenti untuk beristirahat. Banyak tangis dan keluhan. Tapi, kami sampai! Si bungsu dengan kekuatannya sendiri, dan saya, dengan ketegaran untuk mengatakan, T-I-D-A-K pada kemanjaan, keinginan untuk menyerah dan mencari gampangnya, T-U-N-T-A-S dari awal hingga akhir, setia pada proses.

img_20170128_101447
Berjalan bersama, lebih menguatkan

Si bungsu gembira dapat mencapai tujuan. Kepercayaan dirinya meningkat, karena berhasil melewati jalur hiking yang tidak mudah. Saya bahagia, dapat mendampingi si bungsu, menyaksikan proses perjuangan kami berdua.

Proses yang kami lalui sepanjang hari itu, adalah proses berharga tidak hanya untuk si bungsu. Ia merupakan proses yang berharga untuk saya juga. Proses tersebut mendewasakan kami berdua.

Kini, perjuangan untuk kemandirian itu tentu masih berlanjut dalam keseharian kami. Semoga kehadiran saya bagi mereka turut mendukung perkembangan jati diri mereka, tanpa mereka merasa terancam karena saya meninggalkan mereka semata-mata demi menimbulkan kemandirian. Karena, “The greatest gift you can give someone is the space to be his or herself, without the threat of you leaving

img-20170123-wa0007

Radical Forgiveness, Kunci Pendewasaan Jiwa

Berbicara tentang sebuah kata ‘maaf’ menggambarkan hubungan antara dua pihak. Satu pihak menjadi pelaku dan pihak yang lain menjadi korban. Entah itu dalam skala kecil maupun besar, memiliki aspek kriminal atau tidak, pihak yang menjadi korban mengalami kesedihan, duka, amarah.

Seluk beluk tentang maaf dan memaafkan ini mengingatkan saya pada sebuah buku yang belum selesai saya baca. Saya sendiri masih dalam proses menyelesaikan buku ini, hehe. Jadi, isi blogpost ini sebenarnya bukan resensi buku, tetapi sekedar pengantar bagi pembaca yang mungkin membutuhkan. Buku ini menginspirasi saya tentang pemahaman sebuah kata maaf. Judulnya : Radical Forgiveness.

995149659-healing-relationship-quotes-by-colin-tipping-21743901

Di dalam buku tersebut, dikisahkan tentang seorang wanita bernama Jill yang dua kali menikah dengan dua orang suami yang dirasanya tak mencintai dirinya. Pernikahan pertama Jill dengan Henry berakhir dengan perceraian. Sebabnya, Henry  kedapatan terus menerus selingkuh dengan wanita lain.

Suami kedua Jill bernama Jeff. Keretakan hubungan yang terjadi bukan disebabkan oleh wanita lain, melainkan perhatian Jeff yang teralih kepada anak sulung perempuannya – Lorraine – dari pernikahan Jeff dengan istri terdahulu.

Lorraine telah menikah, namun suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan yang naas. Sepeninggal suami Lorraine, Jeff sebagai ayah bagi Lorraine, mencurahkan waktu untuk menemani dan mendampingi putrinya. Jill merasa dinomorduakan, tak dianggap lagi oleh Jeff.

Merasa pernikahannya di ambang kehancuran, Jill menemui kakak kandungnya, Colin C Tipping, yang merupakan penulis buku Radical Forgivess ini, untuk menceritakan keretakan hubungan antara dirinya dan Jeff.

Diskusi-diskusi Jill dengan sang kakak inilah yang kemudian membuka mata saya sebagai pembaca.

quote-radical-forgiveness-is-much-more-than-the-mere-letting-go-of-the-past-it-is-the-key-colin-tipping-86-58-42

Colin membawa Jill melihat kasus keretakan hubungan dengan Jeff dari sudut pandang yang lain. Ia membawa Jill pada kenangannya tentang ayah mereka. Ketika Jill masih kecil, ayahnya tak pernah menunjukkan sikap sayang kepada Jill. Padahal, Jill menyaksikan sendiri bahwa sang ayah ternyata mampu menunjukkan sikap sayang itu kepada anak lain. Dari pengalaman itu, otak alam bawah sadar Jill menempa keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria.

Keyakinan diri sebagai seseorang yang tidak cukup baik untuk dicintai tersebut, itulah yang menyeret Jill kepada permasalahan dengan pria-pria yang menikah dengannya. Apa yang diyakini oleh Jill menjadi realita dalam kehidupannya.

We always create our reality according to our beliefs. If you want to know what your beliefs are, look at what you have in your life. Life always reflects our beliefs. – Colin C. Tipping.

Colin membawa Jill lebih jauh lagi melihat keterkaitan antara kehadiran Henry dan Jeff dalam kehidupan Jill. Kedua suami yang seolah-olah hadir untuk mengonfirmasi keyakinan Jill bahwa ia tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria. Namun, bagaimana kalau kehadiran kedua sosok suami ke dalam hidup Jill ini bertujuan sebaliknya?

Bagaimana jika kehadiran Henry dan Jeff dalam hidup Jill dilihat dari sudut pandang pendewasaan jiwa dan penyembuhan bagi jiwa Jill? Jill perlu menyadari dan memperbaiki keyakinannya dari perasaan tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria. Maka di saat itulah hadir Henry dan Jeff untuk ‘melatih’ Jill berkembang secara spiritual. Dari perspektif korban, Jill mengubah perspektif diri menjadi seseorang yang berdaya dalam menghadapi situasi yang merapuhkan dirinya. Inilah yang disebut Radical Forgiveness.

radical-forgiveness-colin

Colin berkeyakinan, tidak ada situasi yang salah. Kehadiran Henry dan Jeff, tidak salah, karena semesta telah mengatur demikian demi tujuan pendewasaan jiwa Jill.

Membaca buku ini, terasa wow banget, bagi saya. Pemikiran Colin ini benar-benar menjungkirbalikkan mindset saya tentang berbagai perselisihan yang tengah terjadi di dunia ini. Bagaimana jika semua pertikaian, perseteruan, perselisihan yang dihadapi oleh semua manusia di bumi ini, dianggap sebagai proses pendewasaan, latihan bagi jiwa kita untuk berkembang?

Jadi, kunci untuk menerapkan Radical Forgiveness antara lain :

  1. Tidak ada posisi korban. Kedua belah pihak yang bertikai adalah jiwa-jiwa yang dipertemukan untuk saling mendewasakan. Jiwa mereka menari dalam suatu tarian semesta. Seseorang menjadi lebih berdaya ketika ia tidak lagi memposisikan diri sebagai korban. Ia tidak lagi mencari kesalahan dari orang lain, ia menerima pengalaman ‘pernah’ menjadi korban sebagai bagian dari hidupnya. Namun ia tidak berlama-lama menetap dalam situasi tersebut.
  2. Tidak ada situasi yang salah. Situasi-situasi diatur sedemikian rupa oleh semesta untuk mendewasakan jiwa-jiwa yang berada di dalam situasi tersebut. Sekali lagi, ini juga tentang penerimaan. Situasi yang mengecewakan, menyakitkan, menakutkan dapat terjadi, namun ia akan lewat. Dengan radical forgiveness, situasi yang terjadi tidak perlu diratapi atau disesali. Dengan radical forgiveness, situasi diterima sebagai bagian dari sejarah hidup yang mendewasakan jiwa.

Mungkin terasa sulit menerima pandangan Radical Forgiveness ini bagi para perempuan korban pemerkosaan, anak-anak korban bullying, orang-orang korban begal dan perampokan atau para eks tahanan politik jaman G30S/PKI atau bahkan para survivor holocaust dari kamp konsentrasi di Jerman sekalipun. Meski sulit, tapi ada banyak contoh para korban yang sukses menjadi survivor.

Susan Pollack, seorang survivor dari kamp konsentrasi Auschwitz, Jerman, mungkin salah satu yang telah menerapkan prinsip Radical Forgiveness ini. Ia selamat dari siksaan di kamar gas beracun dan siksaan-siksaan lainnya yang ia terima dari para serdadu Nazi. Ia membentengi dirinya dari hal-hal yang membuat dirinya lemah. Namun ia tak luput dari kenangan traumatis yang disaksikannya selama beberapa waktu di Auschwitz.

Karena ia tidak memposisikan dirinya sebagai korban, ia menjadi lebih kuat daripada tahanan-tahanan lainnya bahkan survivor-survivor yang bersama dengannya setelah diselamatkan oleh tentara Inggris. Kenangan traumatis yang ada, ia terima sebagai bagian dari dirinya. Self-acceptance akan memori masa lalu, telah menguatkan dan meluputkan dirinya dari kerapuhan sebagai korban.

radical-forgiveness

Luar biasa, bukan?

Bagi yang tertarik membaca buku Radical Forgiveness, bisa unduh secara gratis bukunya dari link berikut ini : http://www.radicalforgiveness.com/wp-content/uploads/2013/09/Radical-Forgiveness-EBook.pdf

Beberapa yang tertarik untuk berlatih menerapkan radical forgiveness, ada free tools-nya lho.. silakan klik link berikut ini :

http://www.radicalforgiveness.com/free-tools/

img-20170123-wa0007