Grateful

Aku menghela napas panjang. Sudah kesekian kalinya ia tak hadir dalam momen-momen penting kami. Hari-hari besar keagamaan, ulang tahun pernikahan, ulang tahun anak-anak kami, seringnya dirayakan anak-anak bersama ibunya saja. Ke mana ayah, sang suami, sang kepala rumah tangga? Ia hanya sibuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Entah apa yang dikejarnya dalam pekerjaan itu? Anak dan istrinya mungkin sudah masuk dalam prioritas keseratus atau keseribu!

Namun, semua itu selalu kunetralisir dengan pemikiran positif, bahwa pekerjaan yang dilakukannya baik adanya, yang mungkin saja dapat mengubah dunia menjadi lebih baik dari yang ada sekarang. Anak-anak pun tampaknya tak melihat itu sebagai masalah. Mungkin sudah terlalu biasa mereka menjalani hidup tanpa seorang ayah. Seperti halnya aku yang terlalu biasa mengasuh dan membesarkan anak-anakku tanpa kehadiran seorang suami.

familypic

Triing!

Suara notifikasi dari android membuyarkan lamunanku. Satu notifikasi pesan masuk dari sebuah media sosial muncul di layar androidku.

“Va, boleh aku pinjam satu juta? Keadaan uangku sangat menipis saat ini…”

Hatiku tergerak merespon segera permintaan dari Sylvia, sahabatku.

“Boleh, Syl. Besok uangnya kubawa ke kantor ya.”

Tak lama, Sylvia membalas chat-ku dengan ucapan terima kasih.

Aku kembali menghela napas. Memikirkan Sylvia. Memikirkan persahabatan kami. Memikirkan keluargaku dan keluarga Sylvia.

Boleh dikatakan, Sylvia-lah yang berperan sebagai penopang hidup di dalam keluarganya. Suaminya tak berpenghasilan. Mas Henk, suami Sylvia, adalah seorang seniman lukis. Ia bekerja di rumah. Akhir-akhir ini, kudengar permintaan karya lukis sedang sepi. Penghasilan dari Mas Henk hampir tidak ada selama berbulan-bulan. Bertemu dengan kondisi stagnan seperti itu, Mas Henk justru malah mengkeret. Inspirasi seolah-olah lenyap dari kepalanya. Tiada usaha yang ia lakukan untuk membantu menyokong perekonomian keluarganya.

Aku dan Sylvia sudah bersahabat sejak kami berdua sama-sama bekerja di perusahaan tempat kami mencari nafkah saat ini. Namun demikian, profesi yang kami jalani sebagai tenaga administrasi paruh waktu tentu saja tak memberi penghasilan yang cukup. Penghasilan keluargaku masih didukung oleh penghasilan suamiku. Sementara Sylvia? Ia harus hidup pas-pasan dengan keluarganya dari penghasilan yang ia miliki.

Dua dunia yang berbeda. Yang satu, keluarga utuh : ayah, ibu dan anak-anak yang senantiasa bersama. Di pihak lain, keluarga dengan ayah yang sering tak di rumah, ibu yang seringkali merangkap peran sebagai ayah dan anak-anak. Yang satu, penghasilan sangat pas-pasan bahkan sering harus pinjam dana sana-sini untuk menutup kekurangan. Yang lainnya, penghasilan berkecukupan.

Ah, betapa dunia ini memang aneh. Dunia tidak pernah memberi sesuatu yang sungguh ideal. Mungkin ada keluarga lain di luar sana yang senantiasa bersama, berpenghasilan melimpah, bisa berlibur ke luar negeri, namun diliputi kemelut karena anak-anak mereka tumbuh tanpa pengasuhan yang benar. Mungkin lagi, di luar sana ada keluarga lain yang utuh, tetapi dirundung masalah karena adanya perselingkuhan atau kekerasan domestik. Siapa tahu?

grateful

Setiap kehidupan memiliki tantangannya masing-masing. Mungkin di kehidupan saat ini, itulah porsi tantangan yang harus kujalani. Mungkin, semesta sengaja mempertemukan aku dengan Slvia, untuk berkaca bahwa ada situasi yang kebalikan dariku yang ternyata memiliki tantangannya sendiri. Mungkin aku hanya perlu merasa bersyukur dengan kondisi yang kujalani sekarang, seperti halnya Sylvia yang perlu bersyukur dengan kondisinya sekarang. Hanya itu. Jalani tantangan hidup dengan penuh syukur, juga sebaik-baik yang bisa dilakukan.

Ah, terima kasih semesta. Terima kasih atas semua pengalaman jatuh dan bangun yang boleh kumiliki sampai saat ini. Kubersyukur pada apapun nasib yang kuterima. Semua baik adanya, bagiku dan keluargaku saat ini.

img-20170123-wa0007

Advertisements

Sejarah yang Menghidupi Sebuah Nama

batu-nisan_20150511_091119

Berbicara tentang makna sebuah nama, ingatan saya melayang kepada deretan nama yang terpatri pada bilah-bilah persegi terbuat dari batu atau kayu, yang ditancapkan pada gundukan-gundukan tanah tempat peristirahatan akhir sang pemilik nama. Nama-nama yang menyimpan sejarahnya masing-masing. Nama-nama yang meninggalkan kenangan bagi kerabat maupun sahabat yang telah ditinggalkan di dunia yang fana. Nama-nama yang telah mengembara kembali kepada Sang Pencipta.

Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki kenangan akan nama-nama tertentu. Nama-nama itu membingkai kisah-kisah kehidupan yang kemudian dikenang secara turun temurun melalui cerita-cerita di dalam keluarga atau komunitas.

“Eyang uti-mu, nak, waktu ibu masih kecil, sangat apik merawat barang-barang di rumah. Ia pun tak pernah berkata kasar, bahkan membentak anak-anaknya.” Itu sekelumit cerita ibu saya mengenang ibu kandungnya, nenek saya yang belum pernah saya jumpai, karena telah wafat sebelum saya dilahirkan.

“Bapak telah menjadi perintis pembangunan di desa ini. Semasa hidupnya, ia selalu berupaya memajukan kesejahteraan warga desa.” Itu kisah tentang perjuangan ayah mertua saya yang berupaya memajukan kesejahteraan desa yang dahulu dianggap sebagai daerah terpencil. Ketika meninggalnya, berbondong-bondong warga desa melayat, bahkan membantu proses pemakamannya.

Ternyata, seseorang mati tak hanya meninggalkan nama. Ia meninggalkan kisah berupa sejarah kehidupan. Ada sejarah yang menginspirasi, namun ada sejarah yang kelam.

Kita akan selalu mengingat nama Mahatma Gandhi dengan ajaran Ahimsa-nya atau Pramoedya Ananta Toer dengan seruannya tentang menulis untuk keabadian atau Pangeran Diponegoro yang secara kesatria melawan penjajahan. Nama mereka dikenang untuk diteladani, sebisa mungkin teladannya diwariskan ke anak cucu secara turun temurun. Kita semua ingin meneladani dan melanjutkan perbuatan baik mereka.

Pramoedya Quotes

Namun ada pula nama-nama yang diingat secara pahit dan menimbulkan mimpi buruk bagi sekian orang. Seperti nama Amrozi, pelaku bom Bali. Atau nama Santoso, teroris yang terbunuh di Sulawesi. Atau nama Azwar, nama pelaku pelecehan seksual di sekolah Jakarta International School (JIS) yang meninggal bunuh diri.

Jadi ..

Bagaimana Anda ingin nama Anda diingat oleh orang lain? Bagaimana Anda ingin diingat oleh orang lain ketika Anda mati?

Ada nama-nama yang telah pergi dan meninggalkan kisah. Ada pula nama-nama yang masih dapat dijumpai sosoknya, namun ‘sejarah’ tertentu telah tertempel mengikuti namanya karena perbuatan-perbuatan yang dilakukannya.

“Kenal Arif nggak?”
“Arif yang mana?”
“Itu lho, Arif yang udah cerai sama bininya, gara-gara keseringan mukul bininya sampe babak belur???”
“Ooh, Arif yang suka mukulin bininya itu.. Iya, tau.”

“Wah, Soleha tertangkap lagi.”
“Soleha yang suka menipu itu? Siapa lagi korbannya?”

“Hei, mau ke mana?”
“Nengok Mak Edoh, kemarin jatuh dari tangga. Kasihan.”
“Mak Edoh yang rajin bebersih di tempat kos kita??”
“Iya, yang itu. Emang ada Mak Edoh yang lain??”

“Kamu tau Pak Jajang?”
“Iya, kenapa Pak Jajang?”
“Kemarin, berani sekali menghadapi lima orang preman seorang diri. Benar-benar manusia pemberani!”

Adakalanya, sebuah nama begitu indah disandang oleh seseorang, namun ternyata amal perbuatannya tak semulia namanya. Nama Arif, mungkin diberikan oleh orang tuanya dengan harapan ia menjalani kehidupan dengan arif-adil-bijaksana. Nama Soleha, mungkin diberikan orang tuanya dengan harapan menjalani hidup yang soleh dan taat beribadah. Sebaliknya, ada nama-nama yang begitu sepele, kedengarannya kampungan, justru menyimpan sejuta kebaikan yang dirasakan oleh banyak orang di sekitar si empunya nama.

Bagaimana dengan Anda? Bagaimana dengan saya sendiri? Sejarah apa yang ingin kita tempelkan pada nama yang kita sandang? Sudahkah kita hidupi dengan sebenar-benarnya nama yang diberikan oleh orang tua kita?

Nama saya, Navita. Keluarga dan teman-teman memanggil saya, Vita. Orang tua saya mengambil nama itu dari kata nativity atau nativitas, yang artinya kelahiran atau kehidupan. Orang tua saya tentu memiliki harapan yang positif pada kehadiran saya di dunia ini, dengan memberikan nama yang indah itu. Namun, sudahkah saya berperilaku sesuai dengan cerminan nama saya sendiri?

Sebuah nama menyimpan harapan yang baik. Ia bukan hanya sekedar label atau formalitas demi melengkapi surat keterangan seperti akta kelahiran, KTP atau SIM. Pada sebuah nama, ada sejarah. Tentu kita semua ingin dikenang secara positif oleh anak dan cucu kita. Siapkah kita menorehkan sejarah positif dan inspiratif yang menghidupkan nama kita?

img-20170123-wa0007

WhatsApp Image 2017-03-05 at 10.33.05 PM

1 Minggu 1 Cerita di Mata Seorang Pemula

minggu-ke-6

Ini adalah minggu ke-6 perjalanan saya membiasakan diri menulis bersama komunitas 1minggu1cerita. Kini saatnya saya membuat satu tulisan mengenai komunitas ini.

Saya lebih suka menyebut 1minggu1cerita sebagai sebuah komunitas (meskipun di dunia maya), karena di dalam komunitas, ada tujuan bersama, semangat berbagi, saling dukung dan saling mengapresiasi. Hal-hal itulah yang saya rasakan selama bergabung dalam komunitas 1minggu1cerita ini.

Saya mengetahui komunitas 1m1c ini dari akun instagram Anil, salah seorang adminnya. Dalam salah satu instapic-nya, terpampang pendaftaran keikutsertaan dalam kegiatan 1minggu1cerita.
Ketika melihat pengumuman pendaftaran keikutsertaan di 1m1c ini saya langsung berpikir, “Ini saatnya untuk mengaktifkan kembali rasa dan kebiasaan menulis.” setelah sekian lama hobby menulis saya terkubur oleh beberapa pekerjaan yg tidak ada hubungannya dengan tulis menulis.

aturan-main

Saya pun mendaftar.
Tak lama setelah mendaftar, saya mendapat e-mail konfirmasi dan aturan main 1m1c. Mengagumkan, pikir saya. Dari aturan main yang saya baca, tampak bahwa komunitas ini di-maintain cukup rapi oleh para admin-nya.

Apa saja kesan-kesan positif saya tentang komunitas 1minggu1cerita? Simak ya :

  1. Simple, but organized

Komunitas ini memiliki anggota terdaftar mencapai 200 orang, dan setiap orang mendapat nomor anggota. Nomor anggota ini penting diingat oleh setiap anggota di saat akan menyetorkan tulisan.

Setiap anggota memiliki kesempatan menulis di blog dan menyetorkan link tulisannya setiap minggunya dari hari Senin pukul 00:01 hingga hari Minggu pukul 24:00. Form setoran setiap minggunya disiapkan oleh para admin yang bertanggung jawab memonitor setoran tulisan.

Simple, but organized.

form-setoran

Jadi, sebagai anggota, saya cukup menyetorkan satu tulisan yang dipublikasi di blog pribadi, satu kali dalam seminggu. Dengan demikian, saya sah menjadi anggota 1minggu1cerita.

Bagaimana kalau tidak setor? Ada aturan mainnya juga. Boleh sih, sesekali tidak setor tulisan. Tapi, anggota yang tidak setor link tulisan selama 6 minggu berturut-turut akan dikeluarkan dari keanggotaan.

  1. Komunikasi yang terjaga

Komunikasi para anggota dilakukan di group whatsapp. Kebayang rame-nya dua ratusan member didaftarkan masuk di dalam satu group whatsapp! Awal-awal, saya cukup puyeng namun sekaligus excited dengan group komunitas 1minggu1cerita ini. Beberapa orang sudah punya blog yang isinya banyak, beberapa orang nggak punya blog seperti saya. Beberapa anggota sudah saling kenal, sementara anggota baru seperti saya masih celingukan. Untuk sementara ini, saya pun masih sekedar menjadi silent reader dan terkadang terlewat ratusan chat tidak terbaca karena kesibukan lain.

Admin 1minggu1cerita rupanya tidak main-main dalam bertugas. Meski Whatsapp Group terkesan cair dengan percakapan yang ngalor ngidul, seringkali muncul reminder untuk setor tulisan. Dengan berbagai cara, dari yang lucu bikin ngakak sampai yang terkesan galak, seorang admin bernama Phadli konsisten mengingatkan kami semua untuk setor tulisan. Sampai-sampai admin lain pun bikin lelucon dari keukeuhnya Phadli menagih setoran anggota. Kalau sudah muncul Bang Phadli dalam percakapan, siap-siap saja untuk ditagih setorannya. Saya kagum sama konsistensinya mengingatkan kami semua untuk menyetor link tulisan. Keep on reminding us to write, ya, Bang!

phadli-2

screenshot_whatsapp_phadli-nagih-setoran

screenshot_2017-03-04-19-54-04_com-whatsapp

Menurut saya, komunikasi di group whatsapp 1minggu1cerita cukup terjaga. Admin senantiasa mengingatkan untuk tidak posting hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan menulis. Jadi, postingan yang bernada promosi atau jualan atau meme yang serba tidak jelas juntrungannya sudah tentu dilarang di group ini.

  1. Saling dukung melalui BW dan mendapat pengetahuan baru

Awalnya, saya nggak tau apa itu BW. Ternyata, BW itu istilah di dunia blogging, yaitu blogwalking! Intinya, seorang blogger mengunjungi link blog milik blogger lainnya, gitu deh. BW bisa meninggalkan jejak berupa like, comment atau tidak sama sekali. Yang tidak meninggalkan comment, bisa jadi ada kendala teknis dari setting-an blog yang dikunjungi.

tentang-bw

Melakukan BW ada gunanya juga. Kalau kita sedang tidak punya inspirasi menulis topik apa, lakukanlah BW. Dari hasil BW, biasanya sering muncul ide-ide untuk menulis suatu topik tertentu. BW juga membuat pengetahuan bertambah, karena ada beberapa blog menyediakan informasi baru, meski tak jarang juga ada yang bikin baper. Hehehe.. Tapi, baper pun tak apa. Kita manusia juga perlu mengasah perasaan dan empati kepada orang lain juga bukan?

Bagaimana supaya blog kita dikunjungi oleh anggota lain? Di sini tidak ada larangan untuk pamer! Justru dengan pamer link setoran di Whatsapp Group atau Twitter, anggota lainnya bisa langsung klik link tersebut dan membaca tulisan kita. Syukur syukur, kemudian ada comment dari para anggota yang sudah BW ke blog kita, menambah pertemanan dan silaturahmi di antara sesama blogger.

manfaat-bw

  1. Tagline sederhana yang mendorong motivasi menulis

Menulislah meskipun satu minggu satu cerita. Tagline dari 1minggu1cerita ini sederhana, tapi ngena banget. Cukup satu cerita saja dalam satu minggu, itu yang diharapkan dari komunitas ini, tidak lebih. Hm, apa susahnya menulis seminggu sekali saja? Bagi saya, ini adalah dorongan motivasi untuk konsisten menulis kembali, setiap minggu, satu tulisan saja.

Ketika akhirnya saya dapat menulis satu cerita di blog dan menyetorkan link tulisan tersebut di form setoran, lalu pamer link di media sosial, rasanya gimanaaa gitu. Saya merasa seperti telah memenangkan suatu pertempuran kecil mengalahkan rasa malas saya untuk menulis. Saya telah memenangkan kompetisi kecil dalam diri saya untuk menyisihkan waktu dari distraction dan kesibukan rutin saya demi menulis satu buah cerita.

Inilah pengalaman saya hingga minggu ke-6 bergabung di komunitas 1minggu1cerita. Semoga kami dapat terus konsisten menulis, satu cerita setiap minggunya. Terima kasih 1minggu1cerita, yang telah mendorong saya untuk kembali menulis.

img-20170123-wa0007