Belajar Tentang Makna Kebahagiaan Melalui Film Trolls

Siapa yang tidak ingin bahagia? Semua pasti ingin berbahagia dalam hidupnya. Hanya saja, mungkin orang-orang yang belum berbahagia tersebut mencari kebahagiaan di tempat yang salah, dengan cara yang salah. Film Trolls (2016) produksi DreamWorks Animation, memberi gambaran tentang pencarian kebahagiaan melalui film kartun untuk anak-anak, yang sesungguhnya memiliki banyak pesan untuk direfleksikan secara mendalam.

trolls-movie-trivia-quotes-f

Alkisah, hiduplah para Trolls, makhluk-makhluk kecil yang suka menyanyi, menari dan saling memeluk dengan bahagia. Mereka tinggal di sebuah pohon kebahagiaan, di hutan kebahagiaan. Suatu ketika kebahagiaan Trolls terganggu oleh kehadiran Bergen, sesosok makhluk raksasa. Bergen melihat para Trolls yang bahagia dan menginginkan agar kebahagiaan itu menjadi miliknya saja. Maka, ia pun melahap Trolls tersebut. Bergen menganggap kebahagiaan itu datang hanya jika ia memakan Trolls. Setelah peristiwa itu, semakin banyak Bergen tinggal dan mengelilingi pohon tempat para Trolls hidup. Bahkan para Bergen mempunyai hari raya besar yang mereka sebut Trollstice, hari satu-satunya dimana mereka bisa merasaka kebahagiaan dengan cara memakan Trolls.

Raja Peppy menyelamatkan seluruh rakyat Trolls dari kurungan para Bergen. Mereka mencari tempat baru untuk hidup. Merekapun merasakan ketenangan dan kebahagiaan selama 20 tahun lamanya. Tepat di hari perayaan 20 tahun kebebasan para Trolls dari mangsa Bergen, Princess Poppy, anak dari Raja Peppy membuat pesta yang luar biasa meriah. Sayangnya, kemeriahan pesta tersebut membuat Bergen mengetahui keberadaan Trolls. Segera pada malam perayaan itu, beberapa Trolls tertangkap dan dibawa ke kerajaan Bergen. Penangkapan para Trolls setelah 20 tahun bebas dari para Bergen menjadi awal petualangan Princess Poppy yang memutuskan untuk pergi menyelamatkan teman-temannya di kerajaan Bergen.

poppy
Princess Poppy

Princess Poppy, merupakan tokoh utama di dalam cerita ini. Diceritakan di film tersebut, Princess Poppy adalah Trolls yang paling bahagia, antusias, namun kurang perhitungan dan kewaspadaan. Betapa tidak, ia merayakan pesta perayaan pembebasan Trolls dari para Bergen dengan cara yang begitu heboh dan meriah sehingga kehadiran para Trolls dapat diendus oleh Bergen. Seketika itu juga, pesta mereka menjadi rusak, karena Bergen menangkap sebagian Trolls. Karakter Poppy yang ceria dan antusias tersebut diimbangi dengan karakter Branch yang pemurung dan senantiasa paranoid oleh kehadiran Bergen.

branch-trolls
Branch

Percakapan dalam film Trolls menurut saya dikemas begitu rupa sehingga menimbulkan pemikiran yang mendalam. Berikut ini beberapa intisari yang saya temukan dari percakapan di dalam film Trolls :

  1. Sikap kita ditentukan oleh cara pandang (paradigma) kita akan suatu permasalahan.

Pertemuan karakter Poppy dan Branch yang bertolak belakang, memberi cerminan tentang beragamnya cara pandang (paradigma) yang dapat kita temukan di kehidupan sehari-hari. Setiap cara pandang, memiliki caranya masing-masing dalam merespon situasi maupun permasalahan yang menerpa. Percakapan-percakapan yang terjadi antara Poppy dan Branch memberi perspektif tentang bagaimana seseorang melihat suatu masalah. Misalnya dialog yang terjadi ketika Poppy berjalan bersama Branch untuk misi penyelamatan teman mereka yang tertangkap oleh Bergen :

(Sumber : http://www.moviequotesandmore.com/trolls-best-quotes/)

Branch: Wait, wait, wait. What’s your plan?
Poppy: I just told you. Rescue everyone and make it home safely.
Branch: Okay, that’s not a plan, that’s a wish list.
Poppy: Oh, I suppose you have a plan.
Branch: First, we get to the edge of Bergen Town without being spotted. Then, we get inside by sneaking through the old escape tunnels, which will then lead us to the troll tree. Right before we get caught, and suffer a miserable death at the hands of a horrible, bloodthirsty Bergen!

Dapat dilihat dari kalimat tersebut, Poppy yang begitu ringannya berniat menyelamatkan temannya dengan bermodalkan niat baik dan harapan. Sementara Branch dengan sifat paranoid-nya, menggambarkan rencananya dengan diliputi oleh kewaspadaan dan ketakutan dimakan oleh Bergen. Cara pandang Poppy yang positif dan optimis, membuatnya begitu ringan menjalankan suatu misi. Sedangkan cara pandang Branch yang negatif dan paranoid, membuatnya sangat hati-hati dan detail dalam membuat perencanaan.

Saya copas tetap dengan bahasa aslinya, tanpa diterjemahkan, karena menurut saya kalau diterjemahkan, pesannya jadi kurang mengena.

 bergen

Branch: Do you have to sing?
Poppy: I always sing when I’m in a good mood.
Branch: Do you have to be in a good mood?
Poppy: Why wouldn’t I be? By this time tomorrow I’ll be with all my friends. Oh, I wonder what they’re doing right now.
Branch: Probably being digested.
Poppy: They’re alive, Branch. I know it.
Branch: You don’t know anything, Poppy, and I can’t wait to see the look on your face when you realize the world isn’t all cupcakes and rainbows, because it isn’t. Bad things happen, and there’s nothing you can do about it.
Poppy: Hey, I know it’s not all cupcakes and rainbows, but I’d rather go through life thinking that it mostly is instead of being like you. You don’t sing, you don’t dance, it’s so grey all the time! What happened to you?

Dari percakapan ini, dapat terlihat betapa optimisnya Poppy dan betapa pesimisnya Branch. Poppy sangat optimis bahwa teman-temannya masih hidup saat tertangkap oleh Bergen. Sementara Branch mengatakan, teman-teman mereka sudah pasti dimakan oleh para Bergen.

Pesimis menjadikan seseorang sarkastik dan terlalu pasrah, mereka tak bisa melihat sisi baik dari apapun juga. Seseorang yang optimis, senantiasa melihat dari kacamata positif, bahkan orang-orang optimis pun mau mencari sisi baik dari keadaan yang buruk sekalipun.

Trolls

  1. Kebahagiaan tidak datang dari luar, kebahagiaan itu ada di dalam diri kita sendiri. Orang lain hanya membantu kita untuk menemukan kebahagiaan tersebut.

Inilah pesan inti dari film ini. Mencari kebahagiaan bukan dari luar diri. Terkadang orang-orang mencari kebahagiaan dari orang lain atau benda-benda di sekitarnya. Padahal, mau bahagia atau tidak, itu semua berpulang pada diri sendiri. Orang lain di sekitar kita hanya berperan membantu kita untuk menemukan kebahagiaan. Maka, ketika orang-orang di sekitarmu tidak membantumu menemukan kebahagiaan, jangan lantas mengatakan kamu tidak bahagia dan berhenti di tempat. Terkadang, kamu perlu mencari orang yang tepat, yang dapat membantumu menemukan kebahagiaan itu. Jika orang itu tidak ditemukan? Yakini saja bahwa dirimu sendiri bisa memunculkan kebahagiaan itu! Lihatlah dari percakapan ini :

Poppy: Happiness isn’t something you put inside, it’s already there. Sometimes you just need someone to help you find it.

bergens2

  1. Penyelesaian masalah secara menyeluruh. Bukan sebagian. Win win solution.

Bridget: You showed me what it was to be happy and I never would have known it if it wasn’t for you. I love you.
Poppy: I love you, too.

Poppy: Bridget just risked her life to save ours. It’s no right. She deserves to be happy as much as anyone. They ALL do.

Inilah yang menjadikan saya selalu terpukau dengan cara DreamWorks mengemas film ini. Penyelesaian masalah bukan soal menang dan kalah seperti yang sering kita saksikan di kebanyakan film. Penyelesaian masalah di film Trolls ini mengedepankan win win solution.

Poppy melihat bahwa penyelamatan para Trolls bukanlah akhir misi. Ia yakin bahwa semua orang berhak bahagia, termasuk para Bergen. Maka ia mengajak teman-temannya untuk kembali menemui raja Bergen, King Gristle, JR.

King Gristle Jr : Do you really think I can be happy?
Poppy: Of course! It’s inside you! It’s inside of all of us! And I don’t think it. I feel it!

TROLLS

Selain dialog yang begitu inspiratif, soundtrack film Trolls cukup menggugah dan membangkitkan semangat. Lirik lagu yang saya sukai antara lain :

Get Back It Up — lirik yang menampilkan sikap percaya diri dan semangat untuk bangun kembali meski kadang harus jatuh akibat rintangan yang menghadang.

True Colors — lirik yang menggugah kita untuk menampilkan diri apa adanya. Setiap diri kita memiliki bagian yang gelap, yaitu ketakutan, kekhawatiran. Namun ketakutan-ketakutan tersebut tidak membawa manusia untuk lebih maju, ia hanya semakin membuat manusia merasa diri kerdil.

Silakan disimak keseluruhan liriknya berikut ini :

GET BACK IT UP

I really hope I can do it
‘Cause they’re all depending on me
I know that I must leave the only home
I’ve ever known
And brave the dangers of the forest
Saving them before they’re eaten
I mean, how hard can that be?

Looking up at a sunny sky, so shiny and blue
And there’s a butterfly
Well, isn’t that a super fantastic sign
It’s gonna be a fantastic day
Such marvelousness it’s gonna bring
Gotta pocket full of songs that I’m gonna sing
And I’m ready to take on anything
Hooray!

Some super fun surprise around each corner
Just riding on a rainbow, I’m gonna be okay

Hey!
I’m not giving up today
There’s nothing getting in my way
And if you knock knock me over
I will get back up again
Oh!
If something goes a little wrong
Well you can go ahead and bring it on
‘Cause if you knock knock me over, I will get back up again

Woah oh oh oh oh oh oh, get back up again
Woah oh oh oh oh oh oh, ahhhh!

I’m marching along I’ve got confidence
I’m cooler than a pack of peppermints
And I haven’t been this excited since
I can’t remember when!

I’m off on this remarkable adventure
Just riding on a rainbow
What if it’s all a big mistake?
What if it’s more than I can take?
No! I can’t think that way ’cause I know
That I’m really, really, really gonna be okay

Hey!
I’m not giving up today
There’s nothing getting in my way
And if you knock knock me over
I will get back up again
Oh!
If something goes a little wrong
Well you can go ahead and bring it on
‘Cause if you knock knock me over, i will get back up again

TRUE COLORS

You with the sad eyes
Don’t be discouraged
Oh I realize
Its hard to take courage
In a world full of people
You can lose sight of it all
And the darkness inside you
Can make you feel so small

But I see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that’s why I love you
So don’t be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful
Like a rainbow

Show me a smile then
Don’t be unhappy, can’t remember
When I last saw you laughing
If this world makes you crazy
And you’ve taken all you can bear
You call me up
Because you know I’ll be there

And I’ll see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that’s why I love you
So don’t be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful

img-20170123-wa0007

Advertisements

With or Without???

 

Beberapa hari yang lalu, saya bercerita kepada seorang teman tentang serunya perjalanan hiking saya bersama anak-anak di sebuah akhir pekan. Meski harus berpanas-panasan, perjalanan jauh – berjam-jam lamanya untuk tiba di tujuan, kami merasa puas dengan proses hiking bersama tersebut.

img_20170128_111938
Pemandangan indah kota Bandung dari kejauhan, saat kami hiking di Kec. Cimenyan (Bandung Timur)

Teman saya menimpali, “Boleh juga tuh, dicoba untuk Ben (bukan nama sebenarnya). Tapi, bisa nggak, hiking-nya tanpa orang tua? Ini saran dari psikolog anak, Ben sebaiknya menjalani terapi hiking tanpa pendampingan orang tua. Supaya kemandiriannya muncul.”

Teman saya lantas bercerita tentang betapa tergantung anak sulungnya itu kepadanya. “Apa-apa mesti mamanya. Beli jajanan sama mama, pergi main ke rumah teman sama mama. Masak nanti besar pacaran mesti ditemani mamanya juga???”

Saya tercenung sejenak mencerna kalimat teman saya barusan.

Entah mengapa, saya merasa tidak ‘sreg’ dengan saran yang diberikan psikolog anak tersebut. Meski sebenarnya, kondisi ketergantungan yang berlebihan dari anak sulung teman saya itu, juga saya alami dengan anak bungsu saya. Seringkali rengekan, “Mau sama mama!!” keluar dari mulut si bungsu, hampir di kebanyakan situasi. Entah itu di sekolah, bahkan ketika di satu rumah, namun berbeda ruangan.

Beberapa hari saya merenung-renungkan terus percakapan saya dengan teman itu.

Apakah seharusnya anak dibiarkan lepas begitu saja, tanpa orang tua turut berproses bersama anak?

Kembali ke buku Radical Forgiveness yang pernah saya bahas di sini, saya meyakini bahwa setiap jiwa manusia memiliki ‘tarian’ dengan jiwa individu lainnya. Setiap relasi antar manusia memiliki ‘tarian’-nya sendiri. Tidak ada manusia yang menari sendirian. Manusia memang diciptakan untuk bersosialisasi, berhubungan dengan makhluk lain, entah manusia ataupun hewan. Dan dari relasinya dengan makhluk hidup di dunia, misi hidup manusia direalisasikan.

Relasi dengan makhluk hidup di dunia bisa dengan siapa saja. Setiap relasi adalah unik dan spesifik berdasarkan hubungan dengan suami, orang tua, anak-anak maupun teman-teman dan orang-orang di sekitar. Terkait ketergantungan orang tua dan anak yang diceritakan di atas, saya memiliki relasi unik dengan anak bungsu saya. Masing-masing dari kami saling berproses. Proses pendewasaan terjadi di kedua pihak, bukan pada anak bungsu saya saja. Pendewasaan diri yang saya alami, adalah dengan mendampingi bungsu saya, tanpa membuat ia tergantung kepada saya. Pendewasaan diri yang dialami anak saya, adalah bagaimana memupuk kepercayaan diri dan kemandirian tanpa tergantung kepada orang lain.

Terasa lebih sulit menyemangati anak agar mandiri, saat kita berada di sisinya, dibanding saat kita sedang tak bersamanya. Seringkali, sebagai orang tua, kita cenderung menjadi tidak sabaran, lelah, pengen yang gampangnya saja. Contoh kecil di rumah, yaitu ketika anak belajar untuk makan sendiri. Orang tua ingin anak segera menyelesaikan makannya, atau, dengan alasan supaya meja makan tidak kotor karena makanan yang berceceran. gampangnya, disuapi saja!

Ketika hiking, saya pun harus berhadapan dengan rengekan si bungsu, “Capek, Ma! Minta gendong, Ma! Kaki adek pegal, Ma!”

img_20170128_103837
Vidya, bungsu saya saat sedang bete, karena jalur hiking yang melelahkan

Apa yang harus saya lakukan dalam situasi tersebut? Saya kasihan sebenarnya. Bagaimana jika setelah hiking nanti ia jatuh sakit? Kondisi tubuhnya mungkin belum kuat untuk menjelajah rute yang demikian berat. Apakah saya turuti rengekannya? Saya gendong terus hingga tiba di tujuan? Tidak mungkin juga. Saya harus simpan stamina juga untuk bisa mencapai tujuan dari hiking tersebut. Bisa berabe kalau saya ambruk, pingsan di tengah jalan gara-gara menuruti rengekan si bungsu, menggendong dirinya. Lagipula, dengan menuruti rengekan si bungsu, apakah baik untuk perkembangan jiwanya di kemudian hari?

Mungkin, di titik itu, pendapat psikolog anak jadi terasa benar. Seharusnya aku tidak melalui proses hiking ini bersama anakku. Dia harus menjalani rute hiking itu sendiri, bersama seseorang yang ia tak akan mungkin bisa bermanja-manja seperti dengan mamanya. Dan ketika tiba di tujuan, diharapkan ia akan sampai pada pencerahan, “Ternyata aku bisa melalui rute ini, tanpa mamaku!”

Apakah sekembalinya si anak dari hiking tanpa orang tuanya itu, dia akan langsung berubah mandiri dalam sekejap? Apakah di rumah, proses menuju kemandirian itu akan terus diupayakan? Atau, sang ortu kembali memasrahkan proses pembentukan kemandirian itu pada pihak luar? Apakah proses seperti ini akan cocok kami jalani sebagai pasangan anak dan orang tua?

Kembali ke proses hiking kami.

Saya dan si bungsu akhirnya berhasil melewati rute hiking hingga tiba di tujuan.

Memang sih, perjalanan kami tak mulus. Siput mode on. Banyak berhenti untuk beristirahat. Banyak tangis dan keluhan. Tapi, kami sampai! Si bungsu dengan kekuatannya sendiri, dan saya, dengan ketegaran untuk mengatakan, T-I-D-A-K pada kemanjaan, keinginan untuk menyerah dan mencari gampangnya, T-U-N-T-A-S dari awal hingga akhir, setia pada proses.

img_20170128_101447
Berjalan bersama, lebih menguatkan

Si bungsu gembira dapat mencapai tujuan. Kepercayaan dirinya meningkat, karena berhasil melewati jalur hiking yang tidak mudah. Saya bahagia, dapat mendampingi si bungsu, menyaksikan proses perjuangan kami berdua.

Proses yang kami lalui sepanjang hari itu, adalah proses berharga tidak hanya untuk si bungsu. Ia merupakan proses yang berharga untuk saya juga. Proses tersebut mendewasakan kami berdua.

Kini, perjuangan untuk kemandirian itu tentu masih berlanjut dalam keseharian kami. Semoga kehadiran saya bagi mereka turut mendukung perkembangan jati diri mereka, tanpa mereka merasa terancam karena saya meninggalkan mereka semata-mata demi menimbulkan kemandirian. Karena, “The greatest gift you can give someone is the space to be his or herself, without the threat of you leaving

img-20170123-wa0007

Radical Forgiveness, Kunci Pendewasaan Jiwa

Berbicara tentang sebuah kata ‘maaf’ menggambarkan hubungan antara dua pihak. Satu pihak menjadi pelaku dan pihak yang lain menjadi korban. Entah itu dalam skala kecil maupun besar, memiliki aspek kriminal atau tidak, pihak yang menjadi korban mengalami kesedihan, duka, amarah.

Seluk beluk tentang maaf dan memaafkan ini mengingatkan saya pada sebuah buku yang belum selesai saya baca. Saya sendiri masih dalam proses menyelesaikan buku ini, hehe. Jadi, isi blogpost ini sebenarnya bukan resensi buku, tetapi sekedar pengantar bagi pembaca yang mungkin membutuhkan. Buku ini menginspirasi saya tentang pemahaman sebuah kata maaf. Judulnya : Radical Forgiveness.

995149659-healing-relationship-quotes-by-colin-tipping-21743901

Di dalam buku tersebut, dikisahkan tentang seorang wanita bernama Jill yang dua kali menikah dengan dua orang suami yang dirasanya tak mencintai dirinya. Pernikahan pertama Jill dengan Henry berakhir dengan perceraian. Sebabnya, Henry  kedapatan terus menerus selingkuh dengan wanita lain.

Suami kedua Jill bernama Jeff. Keretakan hubungan yang terjadi bukan disebabkan oleh wanita lain, melainkan perhatian Jeff yang teralih kepada anak sulung perempuannya – Lorraine – dari pernikahan Jeff dengan istri terdahulu.

Lorraine telah menikah, namun suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan yang naas. Sepeninggal suami Lorraine, Jeff sebagai ayah bagi Lorraine, mencurahkan waktu untuk menemani dan mendampingi putrinya. Jill merasa dinomorduakan, tak dianggap lagi oleh Jeff.

Merasa pernikahannya di ambang kehancuran, Jill menemui kakak kandungnya, Colin C Tipping, yang merupakan penulis buku Radical Forgivess ini, untuk menceritakan keretakan hubungan antara dirinya dan Jeff.

Diskusi-diskusi Jill dengan sang kakak inilah yang kemudian membuka mata saya sebagai pembaca.

quote-radical-forgiveness-is-much-more-than-the-mere-letting-go-of-the-past-it-is-the-key-colin-tipping-86-58-42

Colin membawa Jill melihat kasus keretakan hubungan dengan Jeff dari sudut pandang yang lain. Ia membawa Jill pada kenangannya tentang ayah mereka. Ketika Jill masih kecil, ayahnya tak pernah menunjukkan sikap sayang kepada Jill. Padahal, Jill menyaksikan sendiri bahwa sang ayah ternyata mampu menunjukkan sikap sayang itu kepada anak lain. Dari pengalaman itu, otak alam bawah sadar Jill menempa keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria.

Keyakinan diri sebagai seseorang yang tidak cukup baik untuk dicintai tersebut, itulah yang menyeret Jill kepada permasalahan dengan pria-pria yang menikah dengannya. Apa yang diyakini oleh Jill menjadi realita dalam kehidupannya.

We always create our reality according to our beliefs. If you want to know what your beliefs are, look at what you have in your life. Life always reflects our beliefs. – Colin C. Tipping.

Colin membawa Jill lebih jauh lagi melihat keterkaitan antara kehadiran Henry dan Jeff dalam kehidupan Jill. Kedua suami yang seolah-olah hadir untuk mengonfirmasi keyakinan Jill bahwa ia tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria. Namun, bagaimana kalau kehadiran kedua sosok suami ke dalam hidup Jill ini bertujuan sebaliknya?

Bagaimana jika kehadiran Henry dan Jeff dalam hidup Jill dilihat dari sudut pandang pendewasaan jiwa dan penyembuhan bagi jiwa Jill? Jill perlu menyadari dan memperbaiki keyakinannya dari perasaan tidak cukup baik untuk dicintai oleh pria. Maka di saat itulah hadir Henry dan Jeff untuk ‘melatih’ Jill berkembang secara spiritual. Dari perspektif korban, Jill mengubah perspektif diri menjadi seseorang yang berdaya dalam menghadapi situasi yang merapuhkan dirinya. Inilah yang disebut Radical Forgiveness.

radical-forgiveness-colin

Colin berkeyakinan, tidak ada situasi yang salah. Kehadiran Henry dan Jeff, tidak salah, karena semesta telah mengatur demikian demi tujuan pendewasaan jiwa Jill.

Membaca buku ini, terasa wow banget, bagi saya. Pemikiran Colin ini benar-benar menjungkirbalikkan mindset saya tentang berbagai perselisihan yang tengah terjadi di dunia ini. Bagaimana jika semua pertikaian, perseteruan, perselisihan yang dihadapi oleh semua manusia di bumi ini, dianggap sebagai proses pendewasaan, latihan bagi jiwa kita untuk berkembang?

Jadi, kunci untuk menerapkan Radical Forgiveness antara lain :

  1. Tidak ada posisi korban. Kedua belah pihak yang bertikai adalah jiwa-jiwa yang dipertemukan untuk saling mendewasakan. Jiwa mereka menari dalam suatu tarian semesta. Seseorang menjadi lebih berdaya ketika ia tidak lagi memposisikan diri sebagai korban. Ia tidak lagi mencari kesalahan dari orang lain, ia menerima pengalaman ‘pernah’ menjadi korban sebagai bagian dari hidupnya. Namun ia tidak berlama-lama menetap dalam situasi tersebut.
  2. Tidak ada situasi yang salah. Situasi-situasi diatur sedemikian rupa oleh semesta untuk mendewasakan jiwa-jiwa yang berada di dalam situasi tersebut. Sekali lagi, ini juga tentang penerimaan. Situasi yang mengecewakan, menyakitkan, menakutkan dapat terjadi, namun ia akan lewat. Dengan radical forgiveness, situasi yang terjadi tidak perlu diratapi atau disesali. Dengan radical forgiveness, situasi diterima sebagai bagian dari sejarah hidup yang mendewasakan jiwa.

Mungkin terasa sulit menerima pandangan Radical Forgiveness ini bagi para perempuan korban pemerkosaan, anak-anak korban bullying, orang-orang korban begal dan perampokan atau para eks tahanan politik jaman G30S/PKI atau bahkan para survivor holocaust dari kamp konsentrasi di Jerman sekalipun. Meski sulit, tapi ada banyak contoh para korban yang sukses menjadi survivor.

Susan Pollack, seorang survivor dari kamp konsentrasi Auschwitz, Jerman, mungkin salah satu yang telah menerapkan prinsip Radical Forgiveness ini. Ia selamat dari siksaan di kamar gas beracun dan siksaan-siksaan lainnya yang ia terima dari para serdadu Nazi. Ia membentengi dirinya dari hal-hal yang membuat dirinya lemah. Namun ia tak luput dari kenangan traumatis yang disaksikannya selama beberapa waktu di Auschwitz.

Karena ia tidak memposisikan dirinya sebagai korban, ia menjadi lebih kuat daripada tahanan-tahanan lainnya bahkan survivor-survivor yang bersama dengannya setelah diselamatkan oleh tentara Inggris. Kenangan traumatis yang ada, ia terima sebagai bagian dari dirinya. Self-acceptance akan memori masa lalu, telah menguatkan dan meluputkan dirinya dari kerapuhan sebagai korban.

radical-forgiveness

Luar biasa, bukan?

Bagi yang tertarik membaca buku Radical Forgiveness, bisa unduh secara gratis bukunya dari link berikut ini : http://www.radicalforgiveness.com/wp-content/uploads/2013/09/Radical-Forgiveness-EBook.pdf

Beberapa yang tertarik untuk berlatih menerapkan radical forgiveness, ada free tools-nya lho.. silakan klik link berikut ini :

http://www.radicalforgiveness.com/free-tools/

img-20170123-wa0007