Kampung Halaman, tempat bertumbuh dan berkembang

Saya meringis setiap kali orang bertanya, di mana kampung halaman saya. Secara genetis, memang saya dilahirkan dari pertemuan sepasang suami istri Jawa. Dan ketika kecil, kami rutin dibawa orang tua sowan ke rumah eyang kami di Semarang dan Klaten. Maka, secara garis keturunan, kampung halaman saya adalah di Jawa Tengah.

Namun sesungguhnya, masa kecil hingga remaja dijalani secara berpindah-pindah. Saya lahir dan dibesarkan di Pulau Sumatera, tepatnya kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, Riau. Masa kecil saya dihabiskan di antara riuh suara burung rangkong dari tengah hutan yang berada tak jauh dari rumah kami, diselingi sahutan suara beruk.

Masa SD dijalani di Jakarta, karena ayah saya ditugaskan di ibukota. Kemudian, masa SMP kami pindah lagi ke Rumbai. Lalu, masa SMA saya jalani di sekolah khusus putri, sekaligus berasrama, di Yogyakarta. Masa-masa kuliah saya jalani di Bandung, sebagai mahasiswa di jurusan Biologi ITB.

pasca-ebtanas-kelas-3-stece-95
Masa SMA di Stella Duce I, Yogyakarta

Pengalaman berpindah tempat tersebut, membuat saya tidak terlalu memiliki kelekatan emosional dengan satu daerah tertentu. Sehingga, persepsi saya tentang kampung halaman menjadi agak berbeda dengan orang lain yang selalu tinggal di satu lokasi tertentu.

Karena terbiasa hidup berpindah di masa kecil, ditambah kehidupan tiga tahun di asrama putri yang berisi orang-orang dengan beranekaragam latar belakang suku dan daerah, saya justru senang bepergian ke tempat baru. Saya senang merasakan perbedaan suasana dari satu tempat dengan tempat lainnya. Saya tertarik mengamati kebiasaan, logat yang berbeda di setiap tempat yang dikunjungi hingga ke bentuk rumah, jenis masakan dan produk khas daerah yang dihasilkan.

Ketika kuliah, saya mengambil lokasi kuliah lapangan di PT Freeport, Papua. Meski cuma 6 bulan durasi kegiatan di sana, telah cukup membuat saya jatuh hati pada keadaan alamnya yang begitu indah dan kaya. Namun di saat yang sama berempati pada masyarakat asli dan tanah adat mereka yang dieksploitasi oleh perusahaan raksasa asing di sana, tanpa mereka dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

vita-di-freeport
Di lokasi penambangan Grasberg, Timika, Papua.

Selepas kuliah, saya memilih bekerja sebagai relawan di kamp pengungsian masyarakat Timor Leste di Timor Barat (Kupang dan Atambua). Dua tahun berada di sana mendampingi kehidupan orang-orang yang tersingkir dan terpecah belah karena politik. Berjumpa dengan para eks-milisi, orang-orang yang tangannya ‘berdarah’ semata-mata karena harus turut pada komando. Perjumpaan dengan mereka mengajarkan pada saya tentang pentingnya menjadi pribadi yang berdaya dalam sebuah keberpihakan. Di sisi lain, perjumpaan dengan para janda yang ditinggalkan suami-suami mereka, mengajarkan pada saya tentang keikhlasan dan perdamaian.

vita-dan-pengungsi-timor-leste
Bersama para pengungsi Timor Leste

Setelah menikah, pasca bencana tsunami tahun 2005, saya bersama suami tinggal di Banda Aceh. Perjumpaan saya dengan teman-teman di Banda Aceh dan Calang, mengajarkan saya arti sebuah ketegaran dan ketabahan. Saya belajar memahami kesedihan mereka akan sebuah kehilangan dan bagaimana mereka berjuang untuk bangkit menghadapi roda kehidupan yang terus berputar.

Dari semua tempat-tempat yang saya singgahi, di kesemua tempat itulah saya bertumbuh dan berproses hingga menjadi saya yang ada saat ini. Pertemuan, perkenalan, riuh rendah berkumpul bersama teman, hingga susah payah membangun kemandirian, konsistensi, integritas, serta membangun cinta dan kepedulian, itulah rangkaian pengalaman yang saya dapatkan dari tempat-tempat tersebut. Rasa dan ingatan saya menobatkan tempat-tempat persinggahan saya itu sebagai ‘kampung halaman’ bagi saya.

Kini, di kampung halaman saya saat ini, Bandung, di usia menginjak kepala empat, saya masih terus berproses menuju pendewasaan diri bersama kedua buah hati saya. Keseharian saya diisi pula dengan berproses mencapai visi misi demi terwujudnya masyarakat transformatif dan berkelanjutan bersama para relawan di Kuncup Padang Ilalang (KAIL).

 

 img-20170123-wa0007

Advertisements

Hidup Berkesadaran

 

meditasi

Seberapa sadarkah kamu menjalani hidupmu?

Seringkali hidup yang kita jalani terdiri dari sekuens rutinitas yang pada akhirnya dijalani begitu saja secara otomatis. Bangun pagi – pergi ke sekolah atau kantor – makan siang – pulang ke rumah – mengerjakan pekerjaan rumah – tidur malam – bangun pagi lagi, dan seterusnya.

Sempatkah terbersit dalam pikiranmu :

“Dampak apa yang kutimbulkan dari asap kendaraan yang kukendarai?”

“Seberapa berat beban yang kutimbulkan dari sampah rumah tangga yang kubuang hari ini?”

“Dampak apa yang kutimbulkan bagi tubuhku sendiri setelah menghabiskan lima buah gorengan bala-bala?”

Terkadang, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tak sempat muncul di dalam pikiran saking rutin dan otomatisnya hidup kita jalani.

Dan tiba-tiba saja, kita terkesiap dengan sekian banyak pemberitaan di media massa tentang banjir, longsor dan bencana-bencana alam lainnya. Kita terkesiap dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang mencantumkan tingginya kadar kolesterol, gula darah atau asam urat kita.

“Ke mana saja aku selama ini?” Mungkin pertanyaan itu yang kemudian akhirnya terlontar.

Makaaa..

Memasuki tahun 2017 ini, saya pun berjanji untuk hidup dengan lebih berkesadaran. Yaitu, menjalani aktivitas dengan perencanaan yang baik. Menyadari dan paham bahwa aktivitas yang saya jalani tersebut mendukung ke arah kebaikan diri, sesama dan lingkungan hidup di sekitar saya.Menyadari dampak negatif dan positif dari apa yang saya hirup, teguk, dan lahap.

Semoga!

Kembali Nge-Blog

Sudah lama tidak menulis di blog.

Kesempatan itu kembali datang ketika melihat postingan teman di awal tahun 2017 ini, tentang event #1minggu1cerita. Ikut, ah! Kenapa tidak?

Tenggelam dalam rutinitas sebagai seorang ibu dan staff keuangan di organisasi membuat otot-otot menulis ini menjadi kaku!

Sekarang saatnya otot-otot dan insting menulis ini dilemaskan, digencarkan kembali.

Bukan apa-apa. Menulis akan membantu mengurai sesuatu yang mengendap dalam pikiran. Menulis adalah alat refleksi dan sarana evaluasi yang baik terhadap langkah-langkah yang sudah dilakukan.

Semoga keikutsertaan saya di event #1minggu1cerita membantu saya untuk kembali menulis… Amin!